Tulisan yang sudah lama sekali tp ya sudahlah aku entri saja.
Beberapa minggu kemarin, saya diajak temen saya yang sarjana psikologi (Nora), nonton film paket nomat di Blok M Plaza. Judul filmnya "Belahan Jiwa", dibintangi para selebritis terkenal akhir2 ini, seperti Dian Sastro, Rachel Maryam, Marcella Zalianty, Nirina dan banyak lagi bintang2 baru yang cantik2 dan ganteng2 gituuuu.
Menit2 pertama film ini, saya bingung, kok jalan ceritanya lompat-lompat ya alurnya dari flashback, maju, mundur semua jadi satu. Mungkin sang sutradara ingin memberikan gambaran setiap tokohnya, tapi jalinan ceritanya jadi berantakan. Serba gak jelas. Film ini bercerita tentang seorang perempuan ( Dian Sastro ) yang mempunyai kepribadian ganda ( lima kepribadian). Disini diceritakan bagaimana kelima kepribadian itu bergumul dalam satu tubuh. Kadang dia bisa menjadi seorang seniman ekstrim ( Rachel ), atau Psikolog ( Marcella), Si kembar yang trauma dengan kematian kembarannya ( Nirina ) dan seorang perancang mode yang terkenal dengan desain baju seronoknya ( yang ini aku lupa nama pemerannya :p) dan tentu saja kepribadian dia sendiri. Dia punya seorang kekasih yang selalu setia mendampinginya ( Alexander yang ganteeeeng tapi aktingnya jelek ) dan merawat dia dengan telaten.
Akibat dari trauma masa lalu, ketika berusia belia dia melihat langsung ayahnya membunuh ibunya dan kemudian ayahnya gantung diri setelah memperkosa dirinya dan kemudian keguguran ( uuuh sadis banget ), dia selalu berperang melawan dirinya sendiri. Dia berusaha mengubur masa lalunya tersebut dengan menjadi orang lain. Sampai pada suatu titik, dimana dia sudah tidak mampu mengatasi konflik dalam dirinya, akhirnya dia gantung diri seperti ayahnya.
Cerita yang sangat unik sebenarnya, mengeksplorasi sisi gelap manusia, tapi gaya pengemasannya menurut saya, ganjil ada sesuatu yang hilang. Misalnya di saat yang bersamaan dia bisa menelepon kepribadiannya yang satu lagi. Kemudian bagaimana dengan lingkungan sosialnya yang bisa menerima dia dengan bermacam2 kepribadian walaupun letaknya berlainan. Pasti harusnya ada beberapa benturan, tapi disitu tidak disorot. Bahkan ada kemunculan seorang hantu wanita yang tidak berhubungan dengan jalan cerita utamanya. Sebenarnya ini mau bikin film horor atau psiko?
Namun, walaupun jalan ceritanya agak memaksa tapi setidaknya sutradara sudah berusaha membuat film bermutu yang ceritanya tidak pasaran, kebetulan dia juga penulis skenarionya.
Saya sendiri jadi teringat teori Carl Gustav Jung, "Don't under estimate with psyche", jangan pernah merasa rendah dengan kondisi kejiwaan sendiri. Kepribadian ganda terjadi karena ketidakpuasan terhadap diri sendiri, lebih baik menerima apa adanya apa yang sudah terjadi dan apa yang ada dalam diri kita. Itu pasti sangat sulit, tapi......memang ada orang yang sempurna?
Ada di salah satu seri buku Harry Potter yang sangat membuat saya terkesan, waktu itu Harry bertanya kepada Prof Dumbledore, kenapa ketika dia melihat cermin tarsah, dia bisa melihat orang tuanya yang sudah meninggal, atau Si Ron melihat dirinya menjadi ketua kelompok Griffyndor? Lalu Prof Dumbledore menjawab," Harry, cermin tarsah ini memperlihatkan apa yang paling diinginkan seseorang dan membuatnya bahagia, tapi orang yang paling bahagia adalah orang yang ketika melihat cermin tarsah itu, dia melihat dirinya sendiri sesuai dengan kondisi saat ini apa adanya".
Saturday, May 30, 2009
Wednesday, May 20, 2009
APA ITU EKONOMI KERAKYATAN
Who has predominant power in the United States? The short answer, from 1776 to the present, is: Those who have the money have the power. George Washington was one of the biggest landowners of his day; presidents in the late 19th century were close to the railroad interests; for George W. Bush, it is oil and other natural resources, agribusiness, and finance. But to be more exact, those who own income-producing property — corporations, real estate, and agribusinesses — set the rules within which policy battles are waged. Domhoff.com
Seorang teman dari media asing beberapa waktu lalu mengirim pertanyaan: apa istilah bahasa Inggris untuk ekonomi kerakyatan? Terjadi silang sengkarut pendapat dari yang masuk akal sampai yang banyolan. Ada yang mengatakan People's economy, national oriented economy, people's priority economy, an unidentified economy, a so called unnamed economy, a one third socialist-one third capitalist-one third anarcy economy. Kalau menurut saya istilah (ngawur) yang paling tepat adalah Pseudo Capitalism alias Kapitalisme bayang-bayang. Bayangan ekonomi siapa? Tergantung komandan tertinggi. Lihat saja first paragraph tulisan ini, jangankan George W Bush, George Washington yang begitu gagah berani berperang ternyata juga memiliki tanah yang begitu luas hingga menjadi landlord yang kemudian menjelma menjadi penunjang utama infrastruktur kereta api, jalan dan sebagainya di Amerika Serikat. Pokoknya kaya raya.
Lalu apa definisi ekonomi kerakyatan di Indonesia yang pernah ada? Ada yang menjelaskan bahwa ekonomi kerakyatan adalah ekonomi yang berdasar pada pengembangan ekonomi khas masyarakat. Oleh sebab itu pembangunan dan kebijakan harus berpihak pada pada kepentingan ekonomi khas rakyat. Suatu konsep yang mengedepankan masyarakat.
Versi (Alm) Prof Mubyarto, ekonomi kerakyatan berasa kekeluargaan, berkedaulatan dan menunjukkan pemihakan sungguh-sungguh pada ekonomi rakyat. Dasar utama adalah kerja jaringan antara sentra inovasi, produksi, dan distribusi barang-jasa.
Usaha perdagangan rakyat, agrobisnis, nelayan, petani, kerajinan, dan lain-lain sering disebut sebagai bagian penting dari ekonomi rakyat.
Semuanya menurut saya BULLSHIT. Ekonomi kerakyatan hanya jargon sexy untuk memikat suara rakyat. Jika nanti terpilih dengan seenaknya, penguasa akan melegitimasi kebijakan ekonominya sebagai ekonomi rakyat kendati kebijakan tersebut hanya menguntungkan sedikit pihak. Toh, sedikit pihak itu rakyat juga, nanti tinggal kasih sumbangan ke pasar tradisional dan membuka resmi sebuah koperasi berikut panen padi atau palawija lainnya. Undang fotogragfer dan TV. Beres sudah satu masalah. Paling 2-3 tahun masyarakat sudah lupa.
Saya memimpikan Indonesia menjadi negara yang kuat secara ekonomi -- menjadi domestic powerhouse -- dengan memanfaatkan keunggulan komparatif. Bagaimana China sukses menerapkan mass producing sehingga sukses menjadi inspirator ekonomi dunia, bagaimana India sukses mengangkat ekonomi negaranya dengan mengedepankan pendidikan yang murah untuk rakyat, bagaimana Jepang dan Korea sukses membuat ekonomi Eropa dan Amerika Serikat gemetaran karena produk elektronik, otomotif dan industri kreatifnya. China, India, Jepang dan Korea menjadi contoh bagaimana suatu negara yang awalnya xenophobic dengan aliran investasi dari luar menjadi negara yang sukses secara ekonomi dan sosial.
Semua contoh diatas menurut saya tidak terjadi karena penerapan ekonomi rakyat. Namun lebih pada pemerintah yang fokus membenahi ekonomi dan memiliki rencana berikut program kerja yang nyata. Saat Jepang membuka diri untuk perkembangan pusat perbelanjaan modern yang pasti akan mengancam pedagang ritel kecil, pemerintah memberikan dukungan agar pedagang ritel kecil menyatukan modal untuk membeli barang langsung ke pabrik tanpa sistem grosir. Hasilnya harganya dapat bersaing dengan perbelanjaan modern. Tidak hanya itu, pemerintah daerah juga memanfaatkan warung-warung kecil di kampung untuk menjadi outlet warga yang ingin berhubungan dengan pemda misalnya mengurus IMB, KTP, surat nikah dan sebagainya. Bayangkan seluruh warung di Indonesia bersatu dan menjual franchise value atas cabang yang begitu besar untuk produk-produk BUMN saja seperti PT Pos, LNG-LPG, pupuk, kertas, petrokimia, dll.
China juga sangat hebat dalam membangun mass producing country. Industri massal di China memiliki keunikan yang sama hebatnya dengan ekonomi dumping dan kreatif Jepang. China memanfaatkan jumlah penduduk yang besar untuk memupuk produktivitas barang dengan kualitas yang terus membaik. Tingginya produktivitas dengan skala ekonomi yang besar membuat harga produk sangat kompetitif dan susah disaingi oleh kompetitor. Di China ada industri otomotif yang memproduksi motor tanpa merek. Tinggal kita kesana beli 100-200 dibawa ke Blitar dan dikasih label Motor Nasional "Moe". Demikian juga mobil, elektronik dan sebagainya.
Era Jepang yang memimpin ekonomi Asia dengan produk rakitan efisiensi kelas atas sudah mulai surut. Perhatikan mobil atau motor Jepang, tiap-tiap pirantinya diproduksi di daerah yang berbeda. Misalnya kap lampu dari Kansai, ban dari Osaka, rangka motor dari Nagoya, dan lain-lain. Di daerah tersebut memiliki keunggulan sehingga mampu menghasilkan kap lampu terbaik dengan harga termurah, ban dengan kualitas atas yang efisien dari budget, dan sebagainya. Akhirnya, industri perakitan menggabungkan bagian-bagian efisien itu menjadi satu, muncullah produk berkualitas dengan sangat efisien dari sisi investasi. Sebuah kemitraan yang manis antara industri perakitan besar dengan UKM-UKM daerah yang berkualitas.
Dua negara itu sangat sadar akan keunggulan khusus ekonominya. Oleh sebab itu konsentrasi terbesar adalah memaksimalkan keunggulan itu dan membangun infrastruktur pendukung agar mobilitas produk berjalan cepat. China saat ini sukses membangun rel kereta api tertinggi dengan taraf kesulitan terbesar di dunia. Jepang berhasil membangun tatanan kereta api super cepat Bullet yang bersaing dengan Prancis. Jalan tol dan express way di Jepang dan China sangat mendukung pola pengiriman produk ke pelabuhan atau industri perakitan. Untuk negara seperti Jepang yang tanahnya labil dan daerahnya sempit, jalan tol dan express way mencapai 6-8 ribuan km, China jangan tanya lagi, saat ini setidaknya sudah mencapai ratusan ribu kilometer yang terhampar di daerah-daerah pusat industri Guangzho dan Senchen. Demikian juga dengan power plant yang luar biasa. China yang memiliki cadangan batubara salah satu yang terbesar di dunia, terus membeli batubara dari luar negeri termasuk Indonesia untuk bahan bakar. Pemerintah China dengan sengaja membuat industri membeli batubara dengan harga pasar sementara cadangan dalam negeri disimpan untuk kebutuhan mendesak atau berjaga-jaga saat ekonomi mengalami turbulence. Jepang sukses membangun berbagai piranti dengan sumber energi alternatif kendati gas alam tetap yang utama. Sama dengan China, Jepang juga membeli gas dari berbagai negara untuk kebutuhan negaranya.
Keberpihakan ini yang tidak nampak di Indonesia. Setiap penguasa terlalu sibuk menjadi makelar negara-negara maju dan industrialis untuk mengeruk bahan-bahan berharga negeri ini untuk kemajuan negara-negara tersebut. Bullshit dengan ekonomi rakyat.
Saat ini terdapat 13-14 ribu pasar tradisional yang menjadi tempat bernaung 40-50 juta pekerja. Saat ini penjualan mereka terus tergerus, infrastruktur dalam pasar semakin buruk. Jaringan perbelanjaan modern terus menghantam dan memojokkan pasar tradisional dengan alasan perbelanjaan modern lebih efisien, merekrut tenaga kerja baru, alih tehnologi, dan segepok alasan bullshit lainnya. Ekonomi rakyat? Pemilik lisensi perbelanjaan modern itu kan juga rakyat. Tidak ada keinginan serius pemerintah untuk mengembangkan ekonomi di pasar tradisional demi keberlangsungan kehidupan puluhan juga rakyat yang bergantung. Kemitraan yang riil antara produksi bahan pokok dengan pasar tradisional berjalan "apa adanya" tanpa terobosan sehingga yang didapat hanya harga murah tanpa berpikir kenyamanan. Apa artinya harga murah jika tidak ada pembeli? Akhirnya produsen pun menyerah dengan listing fee, pembayaran maju dengan rabat, dan special fee kepada pemilik modal besar yang membangun jaringan pasar modern.
Pembangunan infrastruktur berjalan dengan kecepatan tertinggi untuk seekor siput. Ruas tol di Indonesia tidak juga menembus 700km di negara dengan luas wilayah 5 terbesar di dunia. Pembebasan lahan tidak berjalan cepat karena pemerintah yang tidak serius serta teriakan-teriakan LSM pecundang membuat pembangunan jalan gamang. Beberapa lagi berteriak hentikan pembangunan jalan tol karena mengurangi produksi beras. Tolol sekali. Memangnya Indonesia punya Jawa doang. Di pulau lain terhampar ratusan juta lahan siap olah untuk membangun lumbung beras. Power plant? Pemerintah lebih sibuk menjual batubara dan gas keluar negeri daripada membangun power plant agar cukup pasokan energi untuk industri yang akan buka di Indonesia. Gas alam yang seharusnya menjadi bahan pokok pupuk dan industri keramik, justru dijual ke luar negeri dengan kontrak puluhan tahun, sementara pabrik pupuk kehabisan bahan olahan dan harus membeli dari pasar dengan harga mahal tanpa subsidi dengan hasil akhir produksi pupuk yang rendah dan harga yang mahal. Petani pun nekat melakukan pembajakan truk pupuk. Demikian juga batubara, dan minyak bumi.
Lalu kemana ekonomi rakyat? Apa yang ada di otak Bung Hatta ketika meneriakkan jargon ini? Penguasa hanya menggunakan jargon ini untuk menipu rakyat.
Sudahlah mahzab apapun layak diterapkan yang penting eksekusinya memberikan manfaat riil untuk rakyat. Mau pakai merkantilisme, mau pakai sosialis, kapitalis, ekonomi pancasila, syariah dan sebagainya terserah. Yang penting eksekusinya membawa rakyat kebanyakan lebih sejahtera. Sekali lagi saya ingin katakan BULLSHIT EKONOMI RAKYAT....
Friday, May 15, 2009
BIARKAN RAKYAT MEMILIH
Detik-detik terakhir pengumuman Capres dan Cawapres akan segera kita lewati. JUSUF KALLA-WIRANTO (JK-WIN) menjadi pionir saat mengumumkan koalisi Golkar-Hanura untuk menjadi pasangan Capres-Cawapres. Dua pasangan lagi mulai memperlihatkan titik terang kendati melalui jalan yang relatif terjal, MEGAWATI-PRABOWO (MEGAWOW) dan SBY-BOEDIONO (SBY-BOED). Kemungkinan besar pasangan itu akan "ijab kabul" setidaknya sebelum 00.01 16 Mei 2009.
Jalan begitu mulus untuk JK-WIN. Saya pribadi memuji sikap kenegarawanan Pak Wiranto. Mengetahui posisi pemilihnya sangat sedikit, segera Wiranto memilih kawan koalisi Partai Golkar, partai yang pernah men-capres-kannya usai memenangkan konvensi partai Golkar untuk pemilu 2004 lalu. Wiranto menerima pinangan JK -- yang dulu dicap penghianat Golkar. Disinilah kekaguman saya pada Wiranto, mau bergabung tanpa pernah mencela konstituen yang pernah membesarkan namanya.
Jalan JK-WIN ini jauh bertolak belakang dengan SBY-BOED dan MEGAWOW. SBY sampai detik ini direpotkan dengan anggota koalisinya yang sangat rewel. Ada yang bilang Pak Boediono neoliberal-lah, titipan AS-lah, IMF-lah, dsb. Padahal dapat dikatakan dari tiga pasang Capres-Cawapres tidak ada yang murni bersih dari dukungan neoliberal. Beberapa partai yang awalnya memberikan dukungan SBY untuk menentukan Cawapresnya, tiba-tiba berbalik anti dengan Boediono -- dengan salah satu alasan bukan representasi Islam. Mengapa bukan representasi Islam? Menurut petinggi partai islam yang saya baca di salah satu harian terkemuka di Jakarta, kendati Pak Boed sholat 5 waktu dan setiap jumat sholat di Masjid Bank Indonesia, tetap saja dia belum pernah berbicara langsung atau memimpin umat Islam melakukan kegiatan -- alasan yang menurut saya sangat ngawur dan dibuat-buat.
Ada juga yang bilang, SBY-BOED akan membawa kelompok Jawa Timur Selatan menguasai sendi-sendi politik, seharusnya SBY memilih wakil non Jawa. Waduh ini apalagi. Seperti diketahui Pak Boed adalah orang Blitar, sementara SBY orang Pacitan yang ibunya kebetulan Orang Blitar juga. Demikian juga Anas Urbaningrum yang saat ini karir politiknya melaju kencang dari Blitar. Analisis ini berlebihan sekali -- kecuali SBY menggamit Khoirul "Coi" Fatoni, Freema "Wig" Widiasena dan Al Moefti "Moephet" Iswara menjadi Menteri kabinetnya dengan alasan hidup di Blitar, nah itu baru berlebihan. Tentunya SBY punya hitungan politik sendiri dalam menentukan Wapresnya. Banyak yang bilang Boediono akan banyak dijagal di DPR karena tidak memiliki partai. Lalu bagaimana orang yang merendahkan Pak Boed tidak punya lobi politik saat Pak Boed menjungkirbalikkan hitungan politik dengan menjadi Gubernur BI. Fit and Proper Test di DPR komisi XI memberikan suara mutlak 45 dari 46 suara. Satu-satunya suara yang menolak Pak Boed adalah Dr Dradjad Hari Wibowo -- salah satu ekonomi INDEF yang sangat saya kagumi. Demikian juga rakor-rakor ekonomi yang dilaksanakan ujung tombak kembar Pak Boed dan Bu Ani berjalan relatif lancar. Sekali lagi, SBY punya hitungan yang cukup matang.
Langkah SBY mengutus Hatta Rajasa bertandang ke kandang banteng di Teuku Umar Jakarta juga manjur. Hitungan survey dibeberapa tempat memperlihatkan Prabowo menjadi kandidat terkuat menghadapi SBY. Elektabilitas Prabowo cukup tinggi dengan kesuksesannya menjual petani, nelayan dan pedagang pasar. Sayangnya, nasib membawanya ke jumlah suara yang tidak memadai sehingga harus berkoalisi. Dengan didekatinya PDIP oleh tim SBY melalui Hatta Rajasa, Prabowo yang masih ngotot ingin jadi Capres melalui dukungan PDIP akhirnya melunak dan kabarnya mau menjadi Cawapres.
Lepas dari silang sengkarut Capres-Cawapres, political turbulence yang terjadi sangat mengganggu dinamika ekonomi. Beberapa perusahaan besar tidak berani mengambil langkah strategis. Semuanya berhitung kencang mau dibawa kemana arah perekonomian Indonesia kedepan. Paling enak sih jadi pengamat, tinggal mengamati, kalau bikin salah prediksi no problem namanya juga pengamat. Namun kalau pengusaha, salah ambil langkah, periuk nasi yang jadi taruhannya. Seharusnya memang bisnis harus imun dengan dinamika politik, problemnya berbisnis di Indonesia masih tidak bisa lepas dari lingkaran setan legislatif, yudikatif, eksekutif yang memiliki kekuatan luar biasa untuk memengaruhi perekonomian. Belum lagi ditambah militer yang dengan mudah menyusup ke trias politica itu dan menjadi alat sesuatu yang bernama "kebijakan" dan "demi hukum"
Saat ini yang sangat saya ingin lihat adalah pembebasan bagi rakyat untuk memilih tanpa harus ada embel-embel yang saling menjatuhkan. Memang naif berpolitik secara sehat, namun sudah selayaknya dijajaki. Tidak perlu lagi melabeli orang dengan ekonomi barat, ekonomi kerakyatan, islam-non islam, Jawa-Non Jawa, Militer-Non Militer, dsb. Biarkan saja rakyat memilih apa adanya.
Yang perlu juga diangkat adalah mekanisme apakah rakyat dapat mengambil kembali haknya dengan mencabut suaranya saat ternyata hasil yang diharapkan dari pemimpin yang bersangkutan tidak memuaskan?
Jalan begitu mulus untuk JK-WIN. Saya pribadi memuji sikap kenegarawanan Pak Wiranto. Mengetahui posisi pemilihnya sangat sedikit, segera Wiranto memilih kawan koalisi Partai Golkar, partai yang pernah men-capres-kannya usai memenangkan konvensi partai Golkar untuk pemilu 2004 lalu. Wiranto menerima pinangan JK -- yang dulu dicap penghianat Golkar. Disinilah kekaguman saya pada Wiranto, mau bergabung tanpa pernah mencela konstituen yang pernah membesarkan namanya.
Jalan JK-WIN ini jauh bertolak belakang dengan SBY-BOED dan MEGAWOW. SBY sampai detik ini direpotkan dengan anggota koalisinya yang sangat rewel. Ada yang bilang Pak Boediono neoliberal-lah, titipan AS-lah, IMF-lah, dsb. Padahal dapat dikatakan dari tiga pasang Capres-Cawapres tidak ada yang murni bersih dari dukungan neoliberal. Beberapa partai yang awalnya memberikan dukungan SBY untuk menentukan Cawapresnya, tiba-tiba berbalik anti dengan Boediono -- dengan salah satu alasan bukan representasi Islam. Mengapa bukan representasi Islam? Menurut petinggi partai islam yang saya baca di salah satu harian terkemuka di Jakarta, kendati Pak Boed sholat 5 waktu dan setiap jumat sholat di Masjid Bank Indonesia, tetap saja dia belum pernah berbicara langsung atau memimpin umat Islam melakukan kegiatan -- alasan yang menurut saya sangat ngawur dan dibuat-buat.
Ada juga yang bilang, SBY-BOED akan membawa kelompok Jawa Timur Selatan menguasai sendi-sendi politik, seharusnya SBY memilih wakil non Jawa. Waduh ini apalagi. Seperti diketahui Pak Boed adalah orang Blitar, sementara SBY orang Pacitan yang ibunya kebetulan Orang Blitar juga. Demikian juga Anas Urbaningrum yang saat ini karir politiknya melaju kencang dari Blitar. Analisis ini berlebihan sekali -- kecuali SBY menggamit Khoirul "Coi" Fatoni, Freema "Wig" Widiasena dan Al Moefti "Moephet" Iswara menjadi Menteri kabinetnya dengan alasan hidup di Blitar, nah itu baru berlebihan. Tentunya SBY punya hitungan politik sendiri dalam menentukan Wapresnya. Banyak yang bilang Boediono akan banyak dijagal di DPR karena tidak memiliki partai. Lalu bagaimana orang yang merendahkan Pak Boed tidak punya lobi politik saat Pak Boed menjungkirbalikkan hitungan politik dengan menjadi Gubernur BI. Fit and Proper Test di DPR komisi XI memberikan suara mutlak 45 dari 46 suara. Satu-satunya suara yang menolak Pak Boed adalah Dr Dradjad Hari Wibowo -- salah satu ekonomi INDEF yang sangat saya kagumi. Demikian juga rakor-rakor ekonomi yang dilaksanakan ujung tombak kembar Pak Boed dan Bu Ani berjalan relatif lancar. Sekali lagi, SBY punya hitungan yang cukup matang.
Langkah SBY mengutus Hatta Rajasa bertandang ke kandang banteng di Teuku Umar Jakarta juga manjur. Hitungan survey dibeberapa tempat memperlihatkan Prabowo menjadi kandidat terkuat menghadapi SBY. Elektabilitas Prabowo cukup tinggi dengan kesuksesannya menjual petani, nelayan dan pedagang pasar. Sayangnya, nasib membawanya ke jumlah suara yang tidak memadai sehingga harus berkoalisi. Dengan didekatinya PDIP oleh tim SBY melalui Hatta Rajasa, Prabowo yang masih ngotot ingin jadi Capres melalui dukungan PDIP akhirnya melunak dan kabarnya mau menjadi Cawapres.
Lepas dari silang sengkarut Capres-Cawapres, political turbulence yang terjadi sangat mengganggu dinamika ekonomi. Beberapa perusahaan besar tidak berani mengambil langkah strategis. Semuanya berhitung kencang mau dibawa kemana arah perekonomian Indonesia kedepan. Paling enak sih jadi pengamat, tinggal mengamati, kalau bikin salah prediksi no problem namanya juga pengamat. Namun kalau pengusaha, salah ambil langkah, periuk nasi yang jadi taruhannya. Seharusnya memang bisnis harus imun dengan dinamika politik, problemnya berbisnis di Indonesia masih tidak bisa lepas dari lingkaran setan legislatif, yudikatif, eksekutif yang memiliki kekuatan luar biasa untuk memengaruhi perekonomian. Belum lagi ditambah militer yang dengan mudah menyusup ke trias politica itu dan menjadi alat sesuatu yang bernama "kebijakan" dan "demi hukum"
Saat ini yang sangat saya ingin lihat adalah pembebasan bagi rakyat untuk memilih tanpa harus ada embel-embel yang saling menjatuhkan. Memang naif berpolitik secara sehat, namun sudah selayaknya dijajaki. Tidak perlu lagi melabeli orang dengan ekonomi barat, ekonomi kerakyatan, islam-non islam, Jawa-Non Jawa, Militer-Non Militer, dsb. Biarkan saja rakyat memilih apa adanya.
Yang perlu juga diangkat adalah mekanisme apakah rakyat dapat mengambil kembali haknya dengan mencabut suaranya saat ternyata hasil yang diharapkan dari pemimpin yang bersangkutan tidak memuaskan?
Wednesday, March 25, 2009
gak golput, cuma GolHit
maaf kawan. seiring dengan terbitnya fatwa MUI tentang Golput Haram, maka saya memutuskan untuk tidak menjadi Golput lagi. takut dosa. sekarang sudah punya pilihan hati yang baru, GolHit (golongan hitam). kalo Golput jargonnya adalah jangan memilih, maka GolHit ini jauh lebih baik. golongan ini justru menyeru untuk memilih. Memilih untuk tidak memilih.
kasihan yang tetap memutuskan Golput.
bayangkan, seseorang di masukkan neraka karena dosa masa lalu gak ikut pemilu, terus ketemu Hitler.
Golput: "kamu masuk neraka kenapa?"
Hitler : "gak tahu. malaikat bilang karena Genocide. padahal itu adalah wajar. seorang manusia super seperti saya memiliki idaman jerman tanpa yahudi..."
panjang lebar tentang konsepnya tentang Jerman Raya...manusia adi manusia (ubermansch). juga sambil mengacung-acungkan tangannya...
lantas dia bertanya.
kamu kenapa?"
Golput: "gak ikut mencontreng waktu pemilu!"
jawaban ini kan bisa bikin Hitler minta banding ke Tuhan....gak level dong
terus, kl Hitler waktu di neraka di siksa dengan dimasukan granat ke duburnya sesuai dengan kelakuannya di dunia, terus kl yang Golput diapain? masa' dimasukin kertas suara ke duburnya? ato di pukul pk kertas suara?
dan jika GolHit nantinya di nyatakan haram? kami tetap tenang, kawan. kami masih punya alternatif lagi kl ternyata GolHit dilarang. jika di tahun 2014 keluar fatwa baru bahwa GolHit dan GolPut di larang maka kami akan memilih GolC100M12Y75K20. dilarang lagi, bikin konfigurasi CMYK yang baru....
kasihan yang tetap memutuskan Golput.
bayangkan, seseorang di masukkan neraka karena dosa masa lalu gak ikut pemilu, terus ketemu Hitler.
Golput: "kamu masuk neraka kenapa?"
Hitler : "gak tahu. malaikat bilang karena Genocide. padahal itu adalah wajar. seorang manusia super seperti saya memiliki idaman jerman tanpa yahudi..."
panjang lebar tentang konsepnya tentang Jerman Raya...manusia adi manusia (ubermansch). juga sambil mengacung-acungkan tangannya...
lantas dia bertanya.
kamu kenapa?"
Golput: "gak ikut mencontreng waktu pemilu!"
jawaban ini kan bisa bikin Hitler minta banding ke Tuhan....gak level dong
terus, kl Hitler waktu di neraka di siksa dengan dimasukan granat ke duburnya sesuai dengan kelakuannya di dunia, terus kl yang Golput diapain? masa' dimasukin kertas suara ke duburnya? ato di pukul pk kertas suara?
dan jika GolHit nantinya di nyatakan haram? kami tetap tenang, kawan. kami masih punya alternatif lagi kl ternyata GolHit dilarang. jika di tahun 2014 keluar fatwa baru bahwa GolHit dan GolPut di larang maka kami akan memilih GolC100M12Y75K20. dilarang lagi, bikin konfigurasi CMYK yang baru....
1 fakta, 1000 kalimat 1000 fakta baru
baca e-mail freema terakhir tentang saran ke POLRI tentang Linux jadi terpikir, 1 fakta/ide bisa menjadi 1000 fakta baru.
ide yang semula sangat brilian, kemauan yang bener-bener wajib di ajungi jempol, tapi bisa berakhir di tombol "trash".
bagi anggota Indikator lawas, tulisan Freema adalah hal yang biasa -baik dalam hal ide maupun dalam hal karakter tulisan- karena kita dah paham karakter manusia satu ini. tapi, bagi POLRI? meskipun di awal sudah dijelaskan posisinya adalah sebagai warga negara yang sudah bayar pajak (gak ngerti pajak apa aja yang dah di bayar Freema selain PPN. untuk PPh? mungkin setor tapi Nihil... ;p) bisa jadi gak di baca smp tuntas, ato di baca tuntas kemudian di trash. meskipun, sekali lagi, isinya mantaffff, keberaniannya hebatttt.
hanya karena pengemasan.
sampai saat ini, belum ada logika yang membalikkan jargon "kebenaran tidak hanya diterima karena isi, tapi juga karena cara". ini bisa dibuktikan terbalik. yaitu ketika sesuatu yang salah karena di kemas dengan tata kata, serta tata urutan kalimat yang tepat bisa menjadi sebuah kebenaran yang tidak di sanggah. contoh: bagaimana PKI kemudian menjadi organisasi terlarang, dan diakui sebagai kebenaran hingga beberapa waktu yang lalu.
kembali ke tulisan Freema. ketika kalimat yang di pilih kawan kita ini adalah dari juragan ke babu (meskipun dalam konteks WN dengan abdi negara adalah benar) target tulisanya sangat mungkin untuk meleset. karena, sampai sekarang orang yang sadar bahwa dirinya babu masih sedikit.
mungkin logika yang di haturkan ke profesionalitas POLRI sebagai lembaga negara, pengabdi dan pengayom masyarakat.
wah, kl profesionalitas yang di majukan adalah profesionalitas mutlak, aku angkat tangan. konsistensi kita atas profesionalitas juga di ragukan kok...masih menambahkan unsur emosi pribadi. bahkan kadang kala mencari celah yang, mustinya, kl memang profesional gak boleh di gunakan dong.
sepemahanku hingga saat ini, profesionalitas tidak mematikan emosi yang ada dalam diri masing-masing individu. dan ketika satu sisi dia profesional di tuntut, tapi disisi lain dia merasa harga dirinya diinjak-injak, mana yang bakalan dipilih? lagipula, ketika e-mail Freema diterima oleh mereka dan kemudian di baca dan tidak ditindaklanjuti, gak ada unsur pidana-nya kan? menurut saya, ketika memposisikan diri sebagai polisi, ngapain diladeni. akhirnya, tulisan Freema yang semula begitu membahana, hanya bisa teriak di kotak trash.
---
aku sangat yakin kalo Kokok bisa menjelaskan ini dengan jauh lebih baik. bahwa 1 fakta bisa diungkapkan dengan alternatif pilihan 1000 kalimat, dan bisa melahirkan 1000 fakta baru, karena memang dia bergerak di bidang
ato kita ingat kembali masa lalu sebagai sebuah contoh yang paling dekat dengan kita. ketika sebuah tulisan Mbak Pur akan diserap sebagai fakta yang berbeda ketika ditulis oleh Kokok. padahal inti ide sama. yang berbeda hanya karakter, gaya bahasa. hasilnya bisa benar-benar berbeda! tp kl yang nulis Moe, hasilnya jelas, jelas tidak jelasnya (wis Kok gak usah komen buat paragraf ini)
ada paradigma it's not only the song but the singer. jelas ini masih berlaku. dan Freema masih belum masuk di golongan singer yang didengerin. di bawahnya paradigma itu kan ada lagi, it's not only the song but how to sing... terbukti lagu lawas, tidak di nyanyikan oleh singer top, tapi karena di bawakan dengan cara yang mbois jadi terjual ratusan ribu copy. contoh lagunya Hadi bisa di tanya (sebagai pengalaman pribadi maupun sebagai pengamat musik)
lalu...
bunek virtual inilah -semoga- menjadi cara kita mengenang kembali cara menulis kita yang brutal seperti dulu...
ide yang semula sangat brilian, kemauan yang bener-bener wajib di ajungi jempol, tapi bisa berakhir di tombol "trash".
bagi anggota Indikator lawas, tulisan Freema adalah hal yang biasa -baik dalam hal ide maupun dalam hal karakter tulisan- karena kita dah paham karakter manusia satu ini. tapi, bagi POLRI? meskipun di awal sudah dijelaskan posisinya adalah sebagai warga negara yang sudah bayar pajak (gak ngerti pajak apa aja yang dah di bayar Freema selain PPN. untuk PPh? mungkin setor tapi Nihil... ;p) bisa jadi gak di baca smp tuntas, ato di baca tuntas kemudian di trash. meskipun, sekali lagi, isinya mantaffff, keberaniannya hebatttt.
hanya karena pengemasan.
sampai saat ini, belum ada logika yang membalikkan jargon "kebenaran tidak hanya diterima karena isi, tapi juga karena cara". ini bisa dibuktikan terbalik. yaitu ketika sesuatu yang salah karena di kemas dengan tata kata, serta tata urutan kalimat yang tepat bisa menjadi sebuah kebenaran yang tidak di sanggah. contoh: bagaimana PKI kemudian menjadi organisasi terlarang, dan diakui sebagai kebenaran hingga beberapa waktu yang lalu.
kembali ke tulisan Freema. ketika kalimat yang di pilih kawan kita ini adalah dari juragan ke babu (meskipun dalam konteks WN dengan abdi negara adalah benar) target tulisanya sangat mungkin untuk meleset. karena, sampai sekarang orang yang sadar bahwa dirinya babu masih sedikit.
mungkin logika yang di haturkan ke profesionalitas POLRI sebagai lembaga negara, pengabdi dan pengayom masyarakat.
wah, kl profesionalitas yang di majukan adalah profesionalitas mutlak, aku angkat tangan. konsistensi kita atas profesionalitas juga di ragukan kok...masih menambahkan unsur emosi pribadi. bahkan kadang kala mencari celah yang, mustinya, kl memang profesional gak boleh di gunakan dong.
sepemahanku hingga saat ini, profesionalitas tidak mematikan emosi yang ada dalam diri masing-masing individu. dan ketika satu sisi dia profesional di tuntut, tapi disisi lain dia merasa harga dirinya diinjak-injak, mana yang bakalan dipilih? lagipula, ketika e-mail Freema diterima oleh mereka dan kemudian di baca dan tidak ditindaklanjuti, gak ada unsur pidana-nya kan? menurut saya, ketika memposisikan diri sebagai polisi, ngapain diladeni. akhirnya, tulisan Freema yang semula begitu membahana, hanya bisa teriak di kotak trash.
---
aku sangat yakin kalo Kokok bisa menjelaskan ini dengan jauh lebih baik. bahwa 1 fakta bisa diungkapkan dengan alternatif pilihan 1000 kalimat, dan bisa melahirkan 1000 fakta baru, karena memang dia bergerak di bidang
ato kita ingat kembali masa lalu sebagai sebuah contoh yang paling dekat dengan kita. ketika sebuah tulisan Mbak Pur akan diserap sebagai fakta yang berbeda ketika ditulis oleh Kokok. padahal inti ide sama. yang berbeda hanya karakter, gaya bahasa. hasilnya bisa benar-benar berbeda! tp kl yang nulis Moe, hasilnya jelas, jelas tidak jelasnya (wis Kok gak usah komen buat paragraf ini)
ada paradigma it's not only the song but the singer. jelas ini masih berlaku. dan Freema masih belum masuk di golongan singer yang didengerin. di bawahnya paradigma itu kan ada lagi, it's not only the song but how to sing... terbukti lagu lawas, tidak di nyanyikan oleh singer top, tapi karena di bawakan dengan cara yang mbois jadi terjual ratusan ribu copy. contoh lagunya Hadi bisa di tanya (sebagai pengalaman pribadi maupun sebagai pengamat musik)
lalu...
bunek virtual inilah -semoga- menjadi cara kita mengenang kembali cara menulis kita yang brutal seperti dulu...
Friday, March 20, 2009
Lucu-Lucuan Caleg Narsis
Uji Materiil mengenai urutan caleg menjadi suara terbanyak yang dilakukan caleg PDI Perjuangan M. Sholeh yang selanjutnya disahkan oleh Mahkamah Konstitusi membawa konsekuensi yang luas. Ribuan caleg dari berbagai partai politik berlomba-lomba menarik simpati pemilih.
Kalau rata-rata satu partai memiliki 15 caleg untuk masing-masing DPR, DPRD I, DPRD II berarti ada sekian ribu caleg bertebaran dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas Sampai Pulau Rote (ciee, SBY banget).
Ribuan pohon tersiksa hantaman paku, ribuan tiang listrik, tiang telepon, belum termasuk dinding rumah yang mungkin pemiliknya golput. Semua menjual wajah dan beberapa hal yang susah sekali dinilai kualitasnya. Misalnya jujur, amanah, profesional. Atau vokal, berani, anti korupsi. Ada juga yang cerdas, Muda, Mandiri (kenapa nggak sekalian ditambah BRI, BNI, BCA, dll).
Yang lebih konyol, caleg pun mengkampanyekan program-program aneh layaknya jargon calon presiden. Beberapa yang saya ingat antara lain, mengurangi pengangguran, menurunkan harga pangan; terus memberikan untuk rakyat; berkarya dalam kebersamaan; dsb.
Ada juga yang lucu-lucu di koran-koran kota dan daerah (biasanya caleg untuk DPRD-DPRD II). Ada yang bunyinya: nomor urut tidak penting, ingat saja A. Hok dari partai xxx. Ada juga yang publikasi iklan: jangan lupa pilih saya, caleg paling bawah dari partai xxx.
Kalau ke daerah lebih lucu lagi. Ada caleg yang kebetulan nomor partai dan nomor urutnya 7. Kalau yang lain narsis memasang fotonya, dia memasang foto Christiano Ronaldo dan David Becham. Apalagi yang diangkat kalau bukan angka keramat no. 7 dibalik punggung pemain bola tenar itu.
Ada juga yang mengaitkan dengan iklan yang memiliki ketenaran tinggi. Seorang caleg bernama Agus, tidak menampilkan fotonya, hanya teks bertuliskan... Oalah, Agus.. Agus.. ala iklan provider GSM Three milik bersama Hutchinson Telecom dan Charoen Popkhand (correct me if I'm wrong). Ada juga yang memasang teks lagi Krisdayanti dengan beberapa not balok yang ngawur... Pilihlah Aku jadi wakilmu. Ada juga yang kelewatan mengumbar janji, Jangan Biarkan Rakyat Menderita -- ah paling-paling ujungnya kalau sampai rakyat menderita, paling tidak wakil rakyat tetap sejahtera.
Pilihan langsung dengan suara terbanyak memang sangat demokratis. Namun banyak konsekuensi yang harus ditanggung. Tentunya positif-negatif menurut versi saya sendiri lho:
POSITIF
NEGATIF:
disamping itu banyak lagi dampak lucu yang terjadi. Misalnya petugas kebersihan akan kerepotan membersihkan sampah kertas berupa poster, pamflet, stiker, dsb. Belum termasuk baliho, spanduk kain, billboard, iklan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), dsb. Kasihan juga pohon-pohon yang tidak bersalah menjadi cacat luka hantaman palu untuk menusukkan paku penggantung pamflet. Berapa pohon yang harus tersiksa dan berapa lagi yang harus dipotong untuk dijadikan pulp-paper. Hasilnya cuma kertas-kertas tanpa arti yang akhirnya cuma disobek pasca 9 april 2009.
Publik pasti semakin bingung, yang benar ini yang mana. Seluruh orang mengklaim musuh orde baru, anti korupsi, berpihak pada rakyat. Hampir semuanya seragamnya pro rakyat padahal tidak ada buktinya. Bahkan dalam kampanye juga menggunakan jargon bukan janji tapi bukti, bukan impian tapi kenyataann. Apa sih maksudnya. Ini kan jargon-jargon lagu lama yang tidak pernah berubah. Oh, Gosh, I miss Orde Baru. Dimana semua keadaan aman terkendali, kalau ada yang vokal berarti jelas dia dipihak siapa, dimana orang harus sembunyi-sembunyi membaca tetralogi Pramoedya, dimana membaca Madilog menggunakan ejaan lama hasil photo Copy-an.
Jadi ingat joke pembicaraan malaikat dengan Tuhan (pasti sudah banyak yang dengar):
Kalau rata-rata satu partai memiliki 15 caleg untuk masing-masing DPR, DPRD I, DPRD II berarti ada sekian ribu caleg bertebaran dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas Sampai Pulau Rote (ciee, SBY banget).
Ribuan pohon tersiksa hantaman paku, ribuan tiang listrik, tiang telepon, belum termasuk dinding rumah yang mungkin pemiliknya golput. Semua menjual wajah dan beberapa hal yang susah sekali dinilai kualitasnya. Misalnya jujur, amanah, profesional. Atau vokal, berani, anti korupsi. Ada juga yang cerdas, Muda, Mandiri (kenapa nggak sekalian ditambah BRI, BNI, BCA, dll).
Yang lebih konyol, caleg pun mengkampanyekan program-program aneh layaknya jargon calon presiden. Beberapa yang saya ingat antara lain, mengurangi pengangguran, menurunkan harga pangan; terus memberikan untuk rakyat; berkarya dalam kebersamaan; dsb.
Ada juga yang lucu-lucu di koran-koran kota dan daerah (biasanya caleg untuk DPRD-DPRD II). Ada yang bunyinya: nomor urut tidak penting, ingat saja A. Hok dari partai xxx. Ada juga yang publikasi iklan: jangan lupa pilih saya, caleg paling bawah dari partai xxx.
Kalau ke daerah lebih lucu lagi. Ada caleg yang kebetulan nomor partai dan nomor urutnya 7. Kalau yang lain narsis memasang fotonya, dia memasang foto Christiano Ronaldo dan David Becham. Apalagi yang diangkat kalau bukan angka keramat no. 7 dibalik punggung pemain bola tenar itu.
Ada juga yang mengaitkan dengan iklan yang memiliki ketenaran tinggi. Seorang caleg bernama Agus, tidak menampilkan fotonya, hanya teks bertuliskan... Oalah, Agus.. Agus.. ala iklan provider GSM Three milik bersama Hutchinson Telecom dan Charoen Popkhand (correct me if I'm wrong). Ada juga yang memasang teks lagi Krisdayanti dengan beberapa not balok yang ngawur... Pilihlah Aku jadi wakilmu. Ada juga yang kelewatan mengumbar janji, Jangan Biarkan Rakyat Menderita -- ah paling-paling ujungnya kalau sampai rakyat menderita, paling tidak wakil rakyat tetap sejahtera.
Pilihan langsung dengan suara terbanyak memang sangat demokratis. Namun banyak konsekuensi yang harus ditanggung. Tentunya positif-negatif menurut versi saya sendiri lho:
POSITIF
- Caleg yang beberapa kali terpilih karena 'membeli' nomor urut dari partai akan kerepotan utk terpilih lagi. Mungkin karena kurang dikenal publik atau sudah dikenal keburukannya.
- Caleg yang tidak memiliki basis massa yang solid dan riil akan kerepotan. Tidak hanya bertempur lawan partai lain, namun juga harus menghadapi persaingan dalam partai sendiri. Ada kasus seorang caleg membagi sembako. Besoknya rekannya sesama partai memberikan sembako juga, bedanya ditambah kalimat: Sembako yang kemarin itu dibeli menggunakan duit haram. Hati-hati. Gila nggak tuh?
- Partai tidak bisa lagi semena-mena terhadap caleg yang memiliki basis massa pendukung riil. Mekanisme Pengganti Antar Waktu (PAW) dan recall bisa berimbas bentrok massa di tingkat akar rumput.
- Masyarakat akan melihat langsung dan cenderung memilih wakil yang mereka percaya. Genta kematian untuk caleg drop-dropan dari pusat. Bahkan artis, pengurus DPP, dan segepok nama tenar akan kesulitan menghadapi tokoh-tokoh daerah. Ini tentunya pembelajaran yang menarik.
NEGATIF:
- Money politics makin gencar. Dalam suatu dapil sudah dapat diperkirakan BPP (Bilangan Pembagi Pemilih -- semacam kuota untuk mendapat 1 kursi), dulu jika satu dapil ada 9 kursi, setidaknya yang melakukan money politics hanya nomor urut 1-4 dari tiap partai. Sekarang karena menggunakan suara terbanyak, dapat dikatakan seluruh caleg memiliki potensi melakukan money politics. Bayangkan kalau ribuan caleg itu membeli beras dan minyak untuk dibagikan di dapil masing-masing, berapa rupiah yang ditebar. Belum nanti yang cash and carry dilakukan saat serangan fajar tiba.
- Kontrol parpol terhadap calegnya semakin rendah. Jika tidak terkontrol fatsoen (sopan santun berpolitik) akan semakin pudar. Masa partai mengontrol wakilnya saja, sopan santun berpolitik tidak jelas arahnya. Apalagi saat kuat-kuatan massa di akar rumput terjadi.
- Potensi gesekan massa di akar rumput sangat besar. Karena pergerakan massa bisa sangat liar. Yang gampang saja, kemarin saya melihat gambar caleg yang matanya dilobangi dan mulutnya diberi cat pilox seolah-olah bertaring. Coba pas melakukan kegiatan ini massa pendukungnya melihat, apa nggak digebukin rame-rame tuh orang iseng.
- Meningkatnya golput atau suara tidak sah. Hal ini dapat terjadi karena berbagai hal. Antara lain apatisme publik, rendahnya minat mengikuti pemilu (kampanye jalan dilarang, dan sambutan masyarakat sendiri juga rendah).
disamping itu banyak lagi dampak lucu yang terjadi. Misalnya petugas kebersihan akan kerepotan membersihkan sampah kertas berupa poster, pamflet, stiker, dsb. Belum termasuk baliho, spanduk kain, billboard, iklan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), dsb. Kasihan juga pohon-pohon yang tidak bersalah menjadi cacat luka hantaman palu untuk menusukkan paku penggantung pamflet. Berapa pohon yang harus tersiksa dan berapa lagi yang harus dipotong untuk dijadikan pulp-paper. Hasilnya cuma kertas-kertas tanpa arti yang akhirnya cuma disobek pasca 9 april 2009.
Publik pasti semakin bingung, yang benar ini yang mana. Seluruh orang mengklaim musuh orde baru, anti korupsi, berpihak pada rakyat. Hampir semuanya seragamnya pro rakyat padahal tidak ada buktinya. Bahkan dalam kampanye juga menggunakan jargon bukan janji tapi bukti, bukan impian tapi kenyataann. Apa sih maksudnya. Ini kan jargon-jargon lagu lama yang tidak pernah berubah. Oh, Gosh, I miss Orde Baru. Dimana semua keadaan aman terkendali, kalau ada yang vokal berarti jelas dia dipihak siapa, dimana orang harus sembunyi-sembunyi membaca tetralogi Pramoedya, dimana membaca Madilog menggunakan ejaan lama hasil photo Copy-an.
Jadi ingat joke pembicaraan malaikat dengan Tuhan (pasti sudah banyak yang dengar):
- Malaikat (M) : Ya Tuhan, mengapa Engkau menciptakan manusia berbagai bangsa dan iklimnya berbeda-beda?
- Tuhan (T): Tapi Aku ciptakan selalu dalam koridor yang seimbang. Seimbang antara bangsa dan iklimnya.
- M: Kok bisa begitu? Hamba tidak mengerti.
- T: Begini contohnya wahai malaikat. Misalnya bangsa Inggris. Dianugerahi tubuh yang kuat dan rajin bekerja. Karena iklimnya sangat keras. Musim dinginnya sangat menusuk tulang dan dapat terjadi hingga 5-6 bulan setahun. Akhirnya bangsa Inggris dalam harus mampu menyediakan supply makanan dalam 6 bulan untuk kebutuhan 1 tahun. Lalu bangsa Spanyol, dianugerahi tubuh yang tidak sekuat bangsa Inggris. Namun matahari dapat bersinar sepanjang tahun sehingga tanaman dapat terus tumbuh berkelanjutan.
- M: Tapi mengapa Indonesia mendapatkan semuanya. Masyarakat pekerja keras, tanah yang subur, sumber air dan energi yang melimpah? Sisi negatifnya dimana?
- T: Seimbang? Wahai malaikat, engkau terlalu cepat mengambil keputusan. Apakah sudah kau cek para idiot yang berlomba menjadi pemimpin bangsa Indonesia? Itulah faktor negatifnya.
Wednesday, March 18, 2009
Living La Vida Loca
Ya anda benar, judul tersebut adalah judul salah satu hits Ricky Martin. Artinya kalau tidak salah Menjalani kehidupan yang gila. Saat ini hampir semuanya menggila, politik menggila, ekonomi menggila, korupsi menggila, dan semakin hari saya merasakan kehidupan di Indonesia semakin nggilani.
Gila politik
Bagaimana nggak gila. Ada partai yang mengklaim kalau menang pemilu dan jadi presiden siap membawa pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 10% per tahun. Ini pikiran yang benar-benar gila. Kalau tercapai syukur, kalau tidak paling tidak sukses membuat gila banyak orang.
Ada juga yang gila lobi. Sana-sini zig zag lobi untuk koalisi. Hina sana hina sini. Ujung-ujungnya minta tambah jatah menteri. Semoga saja sukses, kalau gagal setidaknya sudah bikin banyak pengamat politik jadi gila memikirkan langkah kuda yang diambil.
Ada yang membawa caleg perempuan kemana-mana. Menjual bahwa perempuan harus terwakili dengan jumlah. Membuat orang menjadi gila pilihan. Caleg perempuan pun semakin gila dengan foto-foto dimana-mana. Beberapa mirip artis Hollywood, Barbara Streisand, maksudnya Barisan Babu Rakyat (baca: wakil rakyat) yang mudah stress (baca: stresan)
Ekonomi Menggila
Bank Century saat mengalami permasalahan likuiditas memiliki CAR (rasio kecukupan modal) sekitar 14%. Jauh diatas CAR terendah patokan Bank Indonesia (BI) sebesar 8%. Ternyata modal CAR 14% itu modal madul. BI berkilah pengawasan berjalan dengan baik dan Bank Century tidak dilikuidasi. Nasabah menjadi gila karena uangnya dipakai investasi produk yang informasinya tidak jelas dan ternyata bodong.
Ini kan bikin gila bank lain yang sehat tapi CAR-nya mepet dengan patokan BI. Saat ini beberapa bank besar yang bagus memiliki CAR 9-12 persen. Sebenarnya secara fundamental bagus, tapi mereka pasti kesulitan menghadapi pertanyaan nasabah: uang saya aman ndak? CAR-nya situ kan mepet sekali. Lu orang harus jujur, kalau banknya lagi susah kasih tahu ya. Atau ndak usah dikasih tahu, hari ini deposito saya tak pindahin ke bank lain. Mampus nggak kalau gitu keadaannya.
Belum kering air mata publik uangnya digarong, Sarijaya Sekuritas jebol. Uang nasabah yang kabarnya Rp 500 miliar di kas perusahaan mengering tinggal Rp 6 miliar. Wow...
Syukur yang ekonominya menggila tidak hanya Indonesia. Amerika Serikat, mbahnya perekonomian dunia juga menggelepar sekarat karena berbagai fraud kelas besar. Bayangkan, perusahaan sekelas Lehman Brothers bisa bangkrut. Edan tenan, itu multi billion company yang suddenly out of the blue hancur lebur jadi abu menyisakan investor mini bonds (sebagian adalah pensiunan) yang memborong produknya di Hong Kong terkena serangan jantung.
Tidak cukup itu saja, Fanny Mae dan Freddy Mac (correct me if I'm wrong) perusahaan penyedia jasa pembiayaan rumah untuk secondary mortgage juga jebol. Belum selesai, muncul Ponzi Scheme (semacam money game-arisan berantai) yang dilakukan Madoff, salah satu tokoh keuangan penting di Amerika Serikat. Yang dijebol lagi-lagi puluhan miliar dolar lho. Banyak orang gila dibuatnya.
Yang lebih gila, Amerika Serikat yang jebol habis-habisan karena fraud keuangan dan sistem Tata Kelola yang Baik (good governance) yang tidak baik justru sering sekali memberikan masukan dan ceramah bahwa pengusaha Indonesia harus lebih transparan dan mengedepankan Good Corporate Governance (GCG). GCG mbahmu...
Gilanya, Amerika Serikat cepat sekali melakukan persidangan. Madoff yang sempat lolos dari tahanan dengan jaminan USD 7 juta, akhirnya divonis 150 tahun penjara. Di Indonesia sepertinya belum memutuskan siapa menjadi otak di Bank Century dan Sarijaya yang akhirnya dihukum berat. Well, let the judge decide.
Kegilaan belum berakhir. Karena kabarnya krisis akan mulai terlihat kedalamannya pada awal semester dua, dan diprediksi mencapai palung dasar september 2009. Kok ya pas banget sama pemilu presiden ya.
Korupsi Menggila
korupsi menggila terus. Karena sejak kecil kita sudah dicuci otak dengan cara yang salah--setidaknya saya. Sejak kecil, saya melihat begitu bangganya orang menjadi pegawai negeri, pejabat pajak, departemen keuangan, pelabuhan, bea cukai, dan lain sebagainya. Sejak kecil -- lagi-lagi setidaknya saya sendiri -- melihat cara pandang masyarakat yang sakit. Bahwa yang dipandang adalah materi. Well menurut saya, money is not everything, but it's the only thing (lho, kok podho wae). Nggak kok berbeda sekali. Cara pandang yang sehat menurut saya adalah materi memang penting, namun lebih penting cara mendapatkannya. Ini sama dengan: Baik menjadi orang penting, tapi lebih penting jadi orang baik.
Cara pandang yang seharusnya sudah membaik karena sudah reformasi ternyata menjadi semakin buruk. Demonstration effect melanda publik. Setiap hari dicuci otak dengan sinetron, iklan konsumtif dan lain sebagainya. Lambat laun materi menjadi agama baru. Mayoritas manusia di Indonesia (perlu survei nggak ya kira-kira) melihat seseorang dari pakaian, mobil, jenis Hp, blackberry, dompet, dan alumni S1- dan S2(yang terakhir ini cuma saya yang sirik saja. Soalnya pas ditanya alumni mana, saya jawab Brawijaya. Eh yang nanya, nanya lagi, itu kampus Jakarta mana? gubrak deh).
Gaya hidup menggila, kontrol berkurang dan memiliki sokongan politik menjadi pejabat publik. Tentunya korupsi menjadi cara paling gampang meraih duniawi, mereguk produk konsumtif yang terkadang koruptor itu tidak mengerti untuk apa. Laptop aja dibeli cuma buat main Soliter, blackberry dibeli cuma telpon dan sms (kalau plus cek email, nah itu saya).
Sadar nggak ya jadi budak konsumerisme. Membeli sampah yang mahal dan barang yang paling cepat menjadi value destructor. Orang lain sibuk mencapai value added dan value creation ini malah dihancurkan. Sama-lah dengan beli mobil mewah. Seharusnya mobil mewah diatas 1 miliar itu pajaknya 3600% saja biar kapok yang beli. Yang kaya baru atau kelompok Kamjet (kampungan berlagak jet set) harus berpikir 3600 kali juga kalau mau beli.
Gila kan. Saya sendiri sudah beberapa tahun terakhir juga gila melihat keadaan. Paling cuma bisa merenungi sore-sore sambil siram-siram kembang sembari baca koran sore terus bersenandung lagu Iwan Fals... aku berdiri... menjadi saksi....
Gila politik
Bagaimana nggak gila. Ada partai yang mengklaim kalau menang pemilu dan jadi presiden siap membawa pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 10% per tahun. Ini pikiran yang benar-benar gila. Kalau tercapai syukur, kalau tidak paling tidak sukses membuat gila banyak orang.
Ada juga yang gila lobi. Sana-sini zig zag lobi untuk koalisi. Hina sana hina sini. Ujung-ujungnya minta tambah jatah menteri. Semoga saja sukses, kalau gagal setidaknya sudah bikin banyak pengamat politik jadi gila memikirkan langkah kuda yang diambil.
Ada yang membawa caleg perempuan kemana-mana. Menjual bahwa perempuan harus terwakili dengan jumlah. Membuat orang menjadi gila pilihan. Caleg perempuan pun semakin gila dengan foto-foto dimana-mana. Beberapa mirip artis Hollywood, Barbara Streisand, maksudnya Barisan Babu Rakyat (baca: wakil rakyat) yang mudah stress (baca: stresan)
Ekonomi Menggila
Bank Century saat mengalami permasalahan likuiditas memiliki CAR (rasio kecukupan modal) sekitar 14%. Jauh diatas CAR terendah patokan Bank Indonesia (BI) sebesar 8%. Ternyata modal CAR 14% itu modal madul. BI berkilah pengawasan berjalan dengan baik dan Bank Century tidak dilikuidasi. Nasabah menjadi gila karena uangnya dipakai investasi produk yang informasinya tidak jelas dan ternyata bodong.
Ini kan bikin gila bank lain yang sehat tapi CAR-nya mepet dengan patokan BI. Saat ini beberapa bank besar yang bagus memiliki CAR 9-12 persen. Sebenarnya secara fundamental bagus, tapi mereka pasti kesulitan menghadapi pertanyaan nasabah: uang saya aman ndak? CAR-nya situ kan mepet sekali. Lu orang harus jujur, kalau banknya lagi susah kasih tahu ya. Atau ndak usah dikasih tahu, hari ini deposito saya tak pindahin ke bank lain. Mampus nggak kalau gitu keadaannya.
Belum kering air mata publik uangnya digarong, Sarijaya Sekuritas jebol. Uang nasabah yang kabarnya Rp 500 miliar di kas perusahaan mengering tinggal Rp 6 miliar. Wow...
Syukur yang ekonominya menggila tidak hanya Indonesia. Amerika Serikat, mbahnya perekonomian dunia juga menggelepar sekarat karena berbagai fraud kelas besar. Bayangkan, perusahaan sekelas Lehman Brothers bisa bangkrut. Edan tenan, itu multi billion company yang suddenly out of the blue hancur lebur jadi abu menyisakan investor mini bonds (sebagian adalah pensiunan) yang memborong produknya di Hong Kong terkena serangan jantung.
Tidak cukup itu saja, Fanny Mae dan Freddy Mac (correct me if I'm wrong) perusahaan penyedia jasa pembiayaan rumah untuk secondary mortgage juga jebol. Belum selesai, muncul Ponzi Scheme (semacam money game-arisan berantai) yang dilakukan Madoff, salah satu tokoh keuangan penting di Amerika Serikat. Yang dijebol lagi-lagi puluhan miliar dolar lho. Banyak orang gila dibuatnya.
Yang lebih gila, Amerika Serikat yang jebol habis-habisan karena fraud keuangan dan sistem Tata Kelola yang Baik (good governance) yang tidak baik justru sering sekali memberikan masukan dan ceramah bahwa pengusaha Indonesia harus lebih transparan dan mengedepankan Good Corporate Governance (GCG). GCG mbahmu...
Gilanya, Amerika Serikat cepat sekali melakukan persidangan. Madoff yang sempat lolos dari tahanan dengan jaminan USD 7 juta, akhirnya divonis 150 tahun penjara. Di Indonesia sepertinya belum memutuskan siapa menjadi otak di Bank Century dan Sarijaya yang akhirnya dihukum berat. Well, let the judge decide.
Kegilaan belum berakhir. Karena kabarnya krisis akan mulai terlihat kedalamannya pada awal semester dua, dan diprediksi mencapai palung dasar september 2009. Kok ya pas banget sama pemilu presiden ya.
Korupsi Menggila
korupsi menggila terus. Karena sejak kecil kita sudah dicuci otak dengan cara yang salah--setidaknya saya. Sejak kecil, saya melihat begitu bangganya orang menjadi pegawai negeri, pejabat pajak, departemen keuangan, pelabuhan, bea cukai, dan lain sebagainya. Sejak kecil -- lagi-lagi setidaknya saya sendiri -- melihat cara pandang masyarakat yang sakit. Bahwa yang dipandang adalah materi. Well menurut saya, money is not everything, but it's the only thing (lho, kok podho wae). Nggak kok berbeda sekali. Cara pandang yang sehat menurut saya adalah materi memang penting, namun lebih penting cara mendapatkannya. Ini sama dengan: Baik menjadi orang penting, tapi lebih penting jadi orang baik.
Cara pandang yang seharusnya sudah membaik karena sudah reformasi ternyata menjadi semakin buruk. Demonstration effect melanda publik. Setiap hari dicuci otak dengan sinetron, iklan konsumtif dan lain sebagainya. Lambat laun materi menjadi agama baru. Mayoritas manusia di Indonesia (perlu survei nggak ya kira-kira) melihat seseorang dari pakaian, mobil, jenis Hp, blackberry, dompet, dan alumni S1- dan S2(yang terakhir ini cuma saya yang sirik saja. Soalnya pas ditanya alumni mana, saya jawab Brawijaya. Eh yang nanya, nanya lagi, itu kampus Jakarta mana? gubrak deh).
Gaya hidup menggila, kontrol berkurang dan memiliki sokongan politik menjadi pejabat publik. Tentunya korupsi menjadi cara paling gampang meraih duniawi, mereguk produk konsumtif yang terkadang koruptor itu tidak mengerti untuk apa. Laptop aja dibeli cuma buat main Soliter, blackberry dibeli cuma telpon dan sms (kalau plus cek email, nah itu saya).
Sadar nggak ya jadi budak konsumerisme. Membeli sampah yang mahal dan barang yang paling cepat menjadi value destructor. Orang lain sibuk mencapai value added dan value creation ini malah dihancurkan. Sama-lah dengan beli mobil mewah. Seharusnya mobil mewah diatas 1 miliar itu pajaknya 3600% saja biar kapok yang beli. Yang kaya baru atau kelompok Kamjet (kampungan berlagak jet set) harus berpikir 3600 kali juga kalau mau beli.
Gila kan. Saya sendiri sudah beberapa tahun terakhir juga gila melihat keadaan. Paling cuma bisa merenungi sore-sore sambil siram-siram kembang sembari baca koran sore terus bersenandung lagu Iwan Fals... aku berdiri... menjadi saksi....
Subscribe to:
Posts (Atom)