Wednesday, March 25, 2009

1 fakta, 1000 kalimat 1000 fakta baru

baca e-mail freema terakhir tentang saran ke POLRI tentang Linux jadi terpikir, 1 fakta/ide bisa menjadi 1000 fakta baru.
ide yang semula sangat brilian, kemauan yang bener-bener wajib di ajungi jempol, tapi bisa berakhir di tombol "trash".

bagi anggota Indikator lawas, tulisan Freema adalah hal yang biasa -baik dalam hal ide maupun dalam hal karakter tulisan- karena kita dah paham karakter manusia satu ini. tapi, bagi POLRI? meskipun di awal sudah dijelaskan posisinya adalah sebagai warga negara yang sudah bayar pajak (gak ngerti pajak apa aja yang dah di bayar Freema selain PPN. untuk PPh? mungkin setor tapi Nihil... ;p) bisa jadi gak di baca smp tuntas, ato di baca tuntas kemudian di trash. meskipun, sekali lagi, isinya mantaffff, keberaniannya hebatttt.
hanya karena pengemasan.

sampai saat ini, belum ada logika yang membalikkan jargon "kebenaran tidak hanya diterima karena isi, tapi juga karena cara". ini bisa dibuktikan terbalik. yaitu ketika sesuatu yang salah karena di kemas dengan tata kata, serta tata urutan kalimat yang tepat bisa menjadi sebuah kebenaran yang tidak di sanggah. contoh: bagaimana PKI kemudian menjadi organisasi terlarang, dan diakui sebagai kebenaran hingga beberapa waktu yang lalu.

kembali ke tulisan Freema. ketika kalimat yang di pilih kawan kita ini adalah dari juragan ke babu (meskipun dalam konteks WN dengan abdi negara adalah benar) target tulisanya sangat mungkin untuk meleset. karena, sampai sekarang orang yang sadar bahwa dirinya babu masih sedikit.

mungkin logika yang di haturkan ke profesionalitas POLRI sebagai lembaga negara, pengabdi dan pengayom masyarakat.

wah, kl profesionalitas yang di majukan adalah profesionalitas mutlak, aku angkat tangan. konsistensi kita atas profesionalitas juga di ragukan kok...masih menambahkan unsur emosi pribadi. bahkan kadang kala mencari celah yang, mustinya, kl memang profesional gak boleh di gunakan dong.

sepemahanku hingga saat ini, profesionalitas tidak mematikan emosi yang ada dalam diri masing-masing individu. dan ketika satu sisi dia profesional di tuntut, tapi disisi lain dia merasa harga dirinya diinjak-injak, mana yang bakalan dipilih? lagipula, ketika e-mail Freema diterima oleh mereka dan kemudian di baca dan tidak ditindaklanjuti, gak ada unsur pidana-nya kan? menurut saya, ketika memposisikan diri sebagai polisi, ngapain diladeni. akhirnya, tulisan Freema yang semula begitu membahana, hanya bisa teriak di kotak trash.

---

aku sangat yakin kalo Kokok bisa menjelaskan ini dengan jauh lebih baik. bahwa 1 fakta bisa diungkapkan dengan alternatif pilihan 1000 kalimat, dan bisa melahirkan 1000 fakta baru, karena memang dia bergerak di bidang

ato kita ingat kembali masa lalu sebagai sebuah contoh yang paling dekat dengan kita. ketika sebuah tulisan Mbak Pur akan diserap sebagai fakta yang berbeda ketika ditulis oleh Kokok. padahal inti ide sama. yang berbeda hanya karakter, gaya bahasa. hasilnya bisa benar-benar berbeda! tp kl yang nulis Moe, hasilnya jelas, jelas tidak jelasnya (wis Kok gak usah komen buat paragraf ini)

ada paradigma it's not only the song but the singer. jelas ini masih berlaku. dan Freema masih belum masuk di golongan singer yang didengerin. di bawahnya paradigma itu kan ada lagi, it's not only the song but how to sing... terbukti lagu lawas, tidak di nyanyikan oleh singer top, tapi karena di bawakan dengan cara yang mbois jadi terjual ratusan ribu copy. contoh lagunya Hadi bisa di tanya (sebagai pengalaman pribadi maupun sebagai pengamat musik)

lalu...
bunek virtual inilah -semoga- menjadi cara kita mengenang kembali cara menulis kita yang brutal seperti dulu...

No comments:

Post a Comment