Wednesday, March 18, 2009

Living La Vida Loca

Ya anda benar, judul tersebut adalah judul salah satu hits Ricky Martin. Artinya kalau tidak salah Menjalani kehidupan yang gila. Saat ini hampir semuanya menggila, politik menggila, ekonomi menggila, korupsi menggila, dan semakin hari saya merasakan kehidupan di Indonesia semakin nggilani.

Gila politik
Bagaimana nggak gila. Ada partai yang mengklaim kalau menang pemilu dan jadi presiden siap membawa pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 10% per tahun. Ini pikiran yang benar-benar gila. Kalau tercapai syukur, kalau tidak paling tidak sukses membuat gila banyak orang.

Ada juga yang gila lobi. Sana-sini zig zag lobi untuk koalisi. Hina sana hina sini. Ujung-ujungnya minta tambah jatah menteri. Semoga saja sukses, kalau gagal setidaknya sudah bikin banyak pengamat politik jadi gila memikirkan langkah kuda yang diambil.

Ada yang membawa caleg perempuan kemana-mana. Menjual bahwa perempuan harus terwakili dengan jumlah. Membuat orang menjadi gila pilihan. Caleg perempuan pun semakin gila dengan foto-foto dimana-mana. Beberapa mirip artis Hollywood, Barbara Streisand, maksudnya Barisan Babu Rakyat (baca: wakil rakyat) yang mudah stress (baca: stresan)


Ekonomi Menggila
Bank Century saat mengalami permasalahan likuiditas memiliki CAR (rasio kecukupan modal) sekitar 14%. Jauh diatas CAR terendah patokan Bank Indonesia (BI) sebesar 8%. Ternyata modal CAR 14% itu modal madul. BI berkilah pengawasan berjalan dengan baik dan Bank Century tidak dilikuidasi. Nasabah menjadi gila karena uangnya dipakai investasi produk yang informasinya tidak jelas dan ternyata bodong.

Ini kan bikin gila bank lain yang sehat tapi CAR-nya mepet dengan patokan BI. Saat ini beberapa bank besar yang bagus memiliki CAR 9-12 persen. Sebenarnya secara fundamental bagus, tapi mereka pasti kesulitan menghadapi pertanyaan nasabah: uang saya aman ndak? CAR-nya situ kan mepet sekali. Lu orang harus jujur, kalau banknya lagi susah kasih tahu ya. Atau ndak usah dikasih tahu, hari ini deposito saya tak pindahin ke bank lain. Mampus nggak kalau gitu keadaannya.

Belum kering air mata publik uangnya digarong, Sarijaya Sekuritas jebol. Uang nasabah yang kabarnya Rp 500 miliar di kas perusahaan mengering tinggal Rp 6 miliar. Wow...

Syukur yang ekonominya menggila tidak hanya Indonesia. Amerika Serikat, mbahnya perekonomian dunia juga menggelepar sekarat karena berbagai fraud kelas besar. Bayangkan, perusahaan sekelas Lehman Brothers bisa bangkrut. Edan tenan, itu multi billion company yang suddenly out of the blue hancur lebur jadi abu menyisakan investor mini bonds (sebagian adalah pensiunan) yang memborong produknya di Hong Kong terkena serangan jantung.

Tidak cukup itu saja, Fanny Mae dan Freddy Mac (correct me if I'm wrong) perusahaan penyedia jasa pembiayaan rumah untuk secondary mortgage juga jebol. Belum selesai, muncul Ponzi Scheme (semacam money game-arisan berantai) yang dilakukan Madoff, salah satu tokoh keuangan penting di Amerika Serikat. Yang dijebol lagi-lagi puluhan miliar dolar lho. Banyak orang gila dibuatnya.

Yang lebih gila, Amerika Serikat yang jebol habis-habisan karena fraud keuangan dan sistem Tata Kelola yang Baik (good governance) yang tidak baik justru sering sekali memberikan masukan dan ceramah bahwa pengusaha Indonesia harus lebih transparan dan mengedepankan Good Corporate Governance (GCG). GCG mbahmu...

Gilanya, Amerika Serikat cepat sekali melakukan persidangan. Madoff yang sempat lolos dari tahanan dengan jaminan USD 7 juta, akhirnya divonis 150 tahun penjara. Di Indonesia sepertinya belum memutuskan siapa menjadi otak di Bank Century dan Sarijaya yang akhirnya dihukum berat. Well, let the judge decide.

Kegilaan belum berakhir. Karena kabarnya krisis akan mulai terlihat kedalamannya pada awal semester dua, dan diprediksi mencapai palung dasar september 2009. Kok ya pas banget sama pemilu presiden ya.


Korupsi Menggila
korupsi menggila terus. Karena sejak kecil kita sudah dicuci otak dengan cara yang salah--setidaknya saya. Sejak kecil, saya melihat begitu bangganya orang menjadi pegawai negeri, pejabat pajak, departemen keuangan, pelabuhan, bea cukai, dan lain sebagainya. Sejak kecil -- lagi-lagi setidaknya saya sendiri -- melihat cara pandang masyarakat yang sakit. Bahwa yang dipandang adalah materi. Well menurut saya, money is not everything, but it's the only thing (lho, kok podho wae). Nggak kok berbeda sekali. Cara pandang yang sehat menurut saya adalah materi memang penting, namun lebih penting cara mendapatkannya. Ini sama dengan: Baik menjadi orang penting, tapi lebih penting jadi orang baik.

Cara pandang yang seharusnya sudah membaik karena sudah reformasi ternyata menjadi semakin buruk. Demonstration effect melanda publik. Setiap hari dicuci otak dengan sinetron, iklan konsumtif dan lain sebagainya. Lambat laun materi menjadi agama baru. Mayoritas manusia di Indonesia (perlu survei nggak ya kira-kira) melihat seseorang dari pakaian, mobil, jenis Hp, blackberry, dompet, dan alumni S1- dan S2(yang terakhir ini cuma saya yang sirik saja. Soalnya pas ditanya alumni mana, saya jawab Brawijaya. Eh yang nanya, nanya lagi, itu kampus Jakarta mana? gubrak deh).


Gaya hidup menggila, kontrol berkurang dan memiliki sokongan politik menjadi pejabat publik. Tentunya korupsi menjadi cara paling gampang meraih duniawi, mereguk produk konsumtif yang terkadang koruptor itu tidak mengerti untuk apa. Laptop aja dibeli cuma buat main Soliter, blackberry dibeli cuma telpon dan sms (kalau plus cek email, nah itu saya).

Sadar nggak ya jadi budak konsumerisme. Membeli sampah yang mahal dan barang yang paling cepat menjadi value destructor. Orang lain sibuk mencapai value added dan value creation ini malah dihancurkan. Sama-lah dengan beli mobil mewah. Seharusnya mobil mewah diatas 1 miliar itu pajaknya 3600% saja biar kapok yang beli. Yang kaya baru atau kelompok Kamjet (kampungan berlagak jet set) harus berpikir 3600 kali juga kalau mau beli.

Gila kan. Saya sendiri sudah beberapa tahun terakhir juga gila melihat keadaan. Paling cuma bisa merenungi sore-sore sambil siram-siram kembang sembari baca koran sore terus bersenandung lagu Iwan Fals... aku berdiri... menjadi saksi....

3 comments:

  1. aku arep komentar...
    tapi nek komentar trus dadi waras... repot... gak menarik.
    dunia menjadi menarik karena kita gila to...

    ReplyDelete
  2. sing gak waras brarti kokok ya? pancen edan arek iku :p

    ReplyDelete
  3. Kalau aku dibilang gila lumayan, itu kemajuan. Biasanya dulu sudah gila ditambah goblok lagi.

    ReplyDelete