Saturday, May 30, 2009

Antara Harry Potter, Belahan Jiwa dan Psikologi Jung

Tulisan yang sudah lama sekali tp ya sudahlah aku entri saja.

Beberapa minggu kemarin, saya diajak temen saya yang sarjana psikologi (Nora), nonton film paket nomat di Blok M Plaza. Judul filmnya "Belahan Jiwa", dibintangi para selebritis terkenal akhir2 ini, seperti Dian Sastro, Rachel Maryam, Marcella Zalianty, Nirina dan banyak lagi bintang2 baru yang cantik2 dan ganteng2 gituuuu.
Menit2 pertama film ini, saya bingung, kok jalan ceritanya lompat-lompat ya alurnya dari flashback, maju, mundur semua jadi satu. Mungkin sang sutradara ingin memberikan gambaran setiap tokohnya, tapi jalinan ceritanya jadi berantakan. Serba gak jelas. Film ini bercerita tentang seorang perempuan ( Dian Sastro ) yang mempunyai kepribadian ganda ( lima kepribadian). Disini diceritakan bagaimana kelima kepribadian itu bergumul dalam satu tubuh. Kadang dia bisa menjadi seorang seniman ekstrim ( Rachel ), atau Psikolog ( Marcella), Si kembar yang trauma dengan kematian kembarannya ( Nirina ) dan seorang perancang mode yang terkenal dengan desain baju seronoknya ( yang ini aku lupa nama pemerannya :p) dan tentu saja kepribadian dia sendiri. Dia punya seorang kekasih yang selalu setia mendampinginya ( Alexander yang ganteeeeng tapi aktingnya jelek ) dan merawat dia dengan telaten.
Akibat dari trauma masa lalu, ketika berusia belia dia melihat langsung ayahnya membunuh ibunya dan kemudian ayahnya gantung diri setelah memperkosa dirinya dan kemudian keguguran ( uuuh sadis banget ), dia selalu berperang melawan dirinya sendiri. Dia berusaha mengubur masa lalunya tersebut dengan menjadi orang lain. Sampai pada suatu titik, dimana dia sudah tidak mampu mengatasi konflik dalam dirinya, akhirnya dia gantung diri seperti ayahnya.
Cerita yang sangat unik sebenarnya, mengeksplorasi sisi gelap manusia, tapi gaya pengemasannya menurut saya, ganjil ada sesuatu yang hilang. Misalnya di saat yang bersamaan dia bisa menelepon kepribadiannya yang satu lagi. Kemudian bagaimana dengan lingkungan sosialnya yang bisa menerima dia dengan bermacam2 kepribadian walaupun letaknya berlainan. Pasti harusnya ada beberapa benturan, tapi disitu tidak disorot. Bahkan ada kemunculan seorang hantu wanita yang tidak berhubungan dengan jalan cerita utamanya. Sebenarnya ini mau bikin film horor atau psiko?
Namun, walaupun jalan ceritanya agak memaksa tapi setidaknya sutradara sudah berusaha membuat film bermutu yang ceritanya tidak pasaran, kebetulan dia juga penulis skenarionya.
Saya sendiri jadi teringat teori Carl Gustav Jung, "Don't under estimate with psyche", jangan pernah merasa rendah dengan kondisi kejiwaan sendiri. Kepribadian ganda terjadi karena ketidakpuasan terhadap diri sendiri, lebih baik menerima apa adanya apa yang sudah terjadi dan apa yang ada dalam diri kita. Itu pasti sangat sulit, tapi......memang ada orang yang sempurna?
Ada di salah satu seri buku Harry Potter yang sangat membuat saya terkesan, waktu itu Harry bertanya kepada Prof Dumbledore, kenapa ketika dia melihat cermin tarsah, dia bisa melihat orang tuanya yang sudah meninggal, atau Si Ron melihat dirinya menjadi ketua kelompok Griffyndor? Lalu Prof Dumbledore menjawab," Harry, cermin tarsah ini memperlihatkan apa yang paling diinginkan seseorang dan membuatnya bahagia, tapi orang yang paling bahagia adalah orang yang ketika melihat cermin tarsah itu, dia melihat dirinya sendiri sesuai dengan kondisi saat ini apa adanya".

1 comments:

  1. Fitri, tulisannya bagus. Sudah nonton Angel & Demon? Tell me what you think.

    ReplyDelete