Wednesday, May 20, 2009
APA ITU EKONOMI KERAKYATAN
Who has predominant power in the United States? The short answer, from 1776 to the present, is: Those who have the money have the power. George Washington was one of the biggest landowners of his day; presidents in the late 19th century were close to the railroad interests; for George W. Bush, it is oil and other natural resources, agribusiness, and finance. But to be more exact, those who own income-producing property — corporations, real estate, and agribusinesses — set the rules within which policy battles are waged. Domhoff.com
Seorang teman dari media asing beberapa waktu lalu mengirim pertanyaan: apa istilah bahasa Inggris untuk ekonomi kerakyatan? Terjadi silang sengkarut pendapat dari yang masuk akal sampai yang banyolan. Ada yang mengatakan People's economy, national oriented economy, people's priority economy, an unidentified economy, a so called unnamed economy, a one third socialist-one third capitalist-one third anarcy economy. Kalau menurut saya istilah (ngawur) yang paling tepat adalah Pseudo Capitalism alias Kapitalisme bayang-bayang. Bayangan ekonomi siapa? Tergantung komandan tertinggi. Lihat saja first paragraph tulisan ini, jangankan George W Bush, George Washington yang begitu gagah berani berperang ternyata juga memiliki tanah yang begitu luas hingga menjadi landlord yang kemudian menjelma menjadi penunjang utama infrastruktur kereta api, jalan dan sebagainya di Amerika Serikat. Pokoknya kaya raya.
Lalu apa definisi ekonomi kerakyatan di Indonesia yang pernah ada? Ada yang menjelaskan bahwa ekonomi kerakyatan adalah ekonomi yang berdasar pada pengembangan ekonomi khas masyarakat. Oleh sebab itu pembangunan dan kebijakan harus berpihak pada pada kepentingan ekonomi khas rakyat. Suatu konsep yang mengedepankan masyarakat.
Versi (Alm) Prof Mubyarto, ekonomi kerakyatan berasa kekeluargaan, berkedaulatan dan menunjukkan pemihakan sungguh-sungguh pada ekonomi rakyat. Dasar utama adalah kerja jaringan antara sentra inovasi, produksi, dan distribusi barang-jasa.
Usaha perdagangan rakyat, agrobisnis, nelayan, petani, kerajinan, dan lain-lain sering disebut sebagai bagian penting dari ekonomi rakyat.
Semuanya menurut saya BULLSHIT. Ekonomi kerakyatan hanya jargon sexy untuk memikat suara rakyat. Jika nanti terpilih dengan seenaknya, penguasa akan melegitimasi kebijakan ekonominya sebagai ekonomi rakyat kendati kebijakan tersebut hanya menguntungkan sedikit pihak. Toh, sedikit pihak itu rakyat juga, nanti tinggal kasih sumbangan ke pasar tradisional dan membuka resmi sebuah koperasi berikut panen padi atau palawija lainnya. Undang fotogragfer dan TV. Beres sudah satu masalah. Paling 2-3 tahun masyarakat sudah lupa.
Saya memimpikan Indonesia menjadi negara yang kuat secara ekonomi -- menjadi domestic powerhouse -- dengan memanfaatkan keunggulan komparatif. Bagaimana China sukses menerapkan mass producing sehingga sukses menjadi inspirator ekonomi dunia, bagaimana India sukses mengangkat ekonomi negaranya dengan mengedepankan pendidikan yang murah untuk rakyat, bagaimana Jepang dan Korea sukses membuat ekonomi Eropa dan Amerika Serikat gemetaran karena produk elektronik, otomotif dan industri kreatifnya. China, India, Jepang dan Korea menjadi contoh bagaimana suatu negara yang awalnya xenophobic dengan aliran investasi dari luar menjadi negara yang sukses secara ekonomi dan sosial.
Semua contoh diatas menurut saya tidak terjadi karena penerapan ekonomi rakyat. Namun lebih pada pemerintah yang fokus membenahi ekonomi dan memiliki rencana berikut program kerja yang nyata. Saat Jepang membuka diri untuk perkembangan pusat perbelanjaan modern yang pasti akan mengancam pedagang ritel kecil, pemerintah memberikan dukungan agar pedagang ritel kecil menyatukan modal untuk membeli barang langsung ke pabrik tanpa sistem grosir. Hasilnya harganya dapat bersaing dengan perbelanjaan modern. Tidak hanya itu, pemerintah daerah juga memanfaatkan warung-warung kecil di kampung untuk menjadi outlet warga yang ingin berhubungan dengan pemda misalnya mengurus IMB, KTP, surat nikah dan sebagainya. Bayangkan seluruh warung di Indonesia bersatu dan menjual franchise value atas cabang yang begitu besar untuk produk-produk BUMN saja seperti PT Pos, LNG-LPG, pupuk, kertas, petrokimia, dll.
China juga sangat hebat dalam membangun mass producing country. Industri massal di China memiliki keunikan yang sama hebatnya dengan ekonomi dumping dan kreatif Jepang. China memanfaatkan jumlah penduduk yang besar untuk memupuk produktivitas barang dengan kualitas yang terus membaik. Tingginya produktivitas dengan skala ekonomi yang besar membuat harga produk sangat kompetitif dan susah disaingi oleh kompetitor. Di China ada industri otomotif yang memproduksi motor tanpa merek. Tinggal kita kesana beli 100-200 dibawa ke Blitar dan dikasih label Motor Nasional "Moe". Demikian juga mobil, elektronik dan sebagainya.
Era Jepang yang memimpin ekonomi Asia dengan produk rakitan efisiensi kelas atas sudah mulai surut. Perhatikan mobil atau motor Jepang, tiap-tiap pirantinya diproduksi di daerah yang berbeda. Misalnya kap lampu dari Kansai, ban dari Osaka, rangka motor dari Nagoya, dan lain-lain. Di daerah tersebut memiliki keunggulan sehingga mampu menghasilkan kap lampu terbaik dengan harga termurah, ban dengan kualitas atas yang efisien dari budget, dan sebagainya. Akhirnya, industri perakitan menggabungkan bagian-bagian efisien itu menjadi satu, muncullah produk berkualitas dengan sangat efisien dari sisi investasi. Sebuah kemitraan yang manis antara industri perakitan besar dengan UKM-UKM daerah yang berkualitas.
Dua negara itu sangat sadar akan keunggulan khusus ekonominya. Oleh sebab itu konsentrasi terbesar adalah memaksimalkan keunggulan itu dan membangun infrastruktur pendukung agar mobilitas produk berjalan cepat. China saat ini sukses membangun rel kereta api tertinggi dengan taraf kesulitan terbesar di dunia. Jepang berhasil membangun tatanan kereta api super cepat Bullet yang bersaing dengan Prancis. Jalan tol dan express way di Jepang dan China sangat mendukung pola pengiriman produk ke pelabuhan atau industri perakitan. Untuk negara seperti Jepang yang tanahnya labil dan daerahnya sempit, jalan tol dan express way mencapai 6-8 ribuan km, China jangan tanya lagi, saat ini setidaknya sudah mencapai ratusan ribu kilometer yang terhampar di daerah-daerah pusat industri Guangzho dan Senchen. Demikian juga dengan power plant yang luar biasa. China yang memiliki cadangan batubara salah satu yang terbesar di dunia, terus membeli batubara dari luar negeri termasuk Indonesia untuk bahan bakar. Pemerintah China dengan sengaja membuat industri membeli batubara dengan harga pasar sementara cadangan dalam negeri disimpan untuk kebutuhan mendesak atau berjaga-jaga saat ekonomi mengalami turbulence. Jepang sukses membangun berbagai piranti dengan sumber energi alternatif kendati gas alam tetap yang utama. Sama dengan China, Jepang juga membeli gas dari berbagai negara untuk kebutuhan negaranya.
Keberpihakan ini yang tidak nampak di Indonesia. Setiap penguasa terlalu sibuk menjadi makelar negara-negara maju dan industrialis untuk mengeruk bahan-bahan berharga negeri ini untuk kemajuan negara-negara tersebut. Bullshit dengan ekonomi rakyat.
Saat ini terdapat 13-14 ribu pasar tradisional yang menjadi tempat bernaung 40-50 juta pekerja. Saat ini penjualan mereka terus tergerus, infrastruktur dalam pasar semakin buruk. Jaringan perbelanjaan modern terus menghantam dan memojokkan pasar tradisional dengan alasan perbelanjaan modern lebih efisien, merekrut tenaga kerja baru, alih tehnologi, dan segepok alasan bullshit lainnya. Ekonomi rakyat? Pemilik lisensi perbelanjaan modern itu kan juga rakyat. Tidak ada keinginan serius pemerintah untuk mengembangkan ekonomi di pasar tradisional demi keberlangsungan kehidupan puluhan juga rakyat yang bergantung. Kemitraan yang riil antara produksi bahan pokok dengan pasar tradisional berjalan "apa adanya" tanpa terobosan sehingga yang didapat hanya harga murah tanpa berpikir kenyamanan. Apa artinya harga murah jika tidak ada pembeli? Akhirnya produsen pun menyerah dengan listing fee, pembayaran maju dengan rabat, dan special fee kepada pemilik modal besar yang membangun jaringan pasar modern.
Pembangunan infrastruktur berjalan dengan kecepatan tertinggi untuk seekor siput. Ruas tol di Indonesia tidak juga menembus 700km di negara dengan luas wilayah 5 terbesar di dunia. Pembebasan lahan tidak berjalan cepat karena pemerintah yang tidak serius serta teriakan-teriakan LSM pecundang membuat pembangunan jalan gamang. Beberapa lagi berteriak hentikan pembangunan jalan tol karena mengurangi produksi beras. Tolol sekali. Memangnya Indonesia punya Jawa doang. Di pulau lain terhampar ratusan juta lahan siap olah untuk membangun lumbung beras. Power plant? Pemerintah lebih sibuk menjual batubara dan gas keluar negeri daripada membangun power plant agar cukup pasokan energi untuk industri yang akan buka di Indonesia. Gas alam yang seharusnya menjadi bahan pokok pupuk dan industri keramik, justru dijual ke luar negeri dengan kontrak puluhan tahun, sementara pabrik pupuk kehabisan bahan olahan dan harus membeli dari pasar dengan harga mahal tanpa subsidi dengan hasil akhir produksi pupuk yang rendah dan harga yang mahal. Petani pun nekat melakukan pembajakan truk pupuk. Demikian juga batubara, dan minyak bumi.
Lalu kemana ekonomi rakyat? Apa yang ada di otak Bung Hatta ketika meneriakkan jargon ini? Penguasa hanya menggunakan jargon ini untuk menipu rakyat.
Sudahlah mahzab apapun layak diterapkan yang penting eksekusinya memberikan manfaat riil untuk rakyat. Mau pakai merkantilisme, mau pakai sosialis, kapitalis, ekonomi pancasila, syariah dan sebagainya terserah. Yang penting eksekusinya membawa rakyat kebanyakan lebih sejahtera. Sekali lagi saya ingin katakan BULLSHIT EKONOMI RAKYAT....
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment