Wednesday, March 25, 2009

gak golput, cuma GolHit

maaf kawan. seiring dengan terbitnya fatwa MUI tentang Golput Haram, maka saya memutuskan untuk tidak menjadi Golput lagi. takut dosa. sekarang sudah punya pilihan hati yang baru, GolHit (golongan hitam). kalo Golput jargonnya adalah jangan memilih, maka GolHit ini jauh lebih baik. golongan ini justru menyeru untuk memilih. Memilih untuk tidak memilih.

kasihan yang tetap memutuskan Golput.

bayangkan, seseorang di masukkan neraka karena dosa masa lalu gak ikut pemilu, terus ketemu Hitler.
Golput: "kamu masuk neraka kenapa?"
Hitler : "gak tahu. malaikat bilang karena Genocide. padahal itu adalah wajar. seorang manusia super seperti saya memiliki idaman jerman tanpa yahudi..."
panjang lebar tentang konsepnya tentang Jerman Raya...manusia adi manusia (ubermansch). juga sambil mengacung-acungkan tangannya...
lantas dia bertanya.
kamu kenapa?"
Golput: "gak ikut mencontreng waktu pemilu!"
jawaban ini kan bisa bikin Hitler minta banding ke Tuhan....gak level dong

terus, kl Hitler waktu di neraka di siksa dengan dimasukan granat ke duburnya sesuai dengan kelakuannya di dunia, terus kl yang Golput diapain? masa' dimasukin kertas suara ke duburnya? ato di pukul pk kertas suara?

dan jika GolHit nantinya di nyatakan haram? kami tetap tenang, kawan. kami masih punya alternatif lagi kl ternyata GolHit dilarang. jika di tahun 2014 keluar fatwa baru bahwa GolHit dan GolPut di larang maka kami akan memilih GolC100M12Y75K20. dilarang lagi, bikin konfigurasi CMYK yang baru....

1 fakta, 1000 kalimat 1000 fakta baru

baca e-mail freema terakhir tentang saran ke POLRI tentang Linux jadi terpikir, 1 fakta/ide bisa menjadi 1000 fakta baru.
ide yang semula sangat brilian, kemauan yang bener-bener wajib di ajungi jempol, tapi bisa berakhir di tombol "trash".

bagi anggota Indikator lawas, tulisan Freema adalah hal yang biasa -baik dalam hal ide maupun dalam hal karakter tulisan- karena kita dah paham karakter manusia satu ini. tapi, bagi POLRI? meskipun di awal sudah dijelaskan posisinya adalah sebagai warga negara yang sudah bayar pajak (gak ngerti pajak apa aja yang dah di bayar Freema selain PPN. untuk PPh? mungkin setor tapi Nihil... ;p) bisa jadi gak di baca smp tuntas, ato di baca tuntas kemudian di trash. meskipun, sekali lagi, isinya mantaffff, keberaniannya hebatttt.
hanya karena pengemasan.

sampai saat ini, belum ada logika yang membalikkan jargon "kebenaran tidak hanya diterima karena isi, tapi juga karena cara". ini bisa dibuktikan terbalik. yaitu ketika sesuatu yang salah karena di kemas dengan tata kata, serta tata urutan kalimat yang tepat bisa menjadi sebuah kebenaran yang tidak di sanggah. contoh: bagaimana PKI kemudian menjadi organisasi terlarang, dan diakui sebagai kebenaran hingga beberapa waktu yang lalu.

kembali ke tulisan Freema. ketika kalimat yang di pilih kawan kita ini adalah dari juragan ke babu (meskipun dalam konteks WN dengan abdi negara adalah benar) target tulisanya sangat mungkin untuk meleset. karena, sampai sekarang orang yang sadar bahwa dirinya babu masih sedikit.

mungkin logika yang di haturkan ke profesionalitas POLRI sebagai lembaga negara, pengabdi dan pengayom masyarakat.

wah, kl profesionalitas yang di majukan adalah profesionalitas mutlak, aku angkat tangan. konsistensi kita atas profesionalitas juga di ragukan kok...masih menambahkan unsur emosi pribadi. bahkan kadang kala mencari celah yang, mustinya, kl memang profesional gak boleh di gunakan dong.

sepemahanku hingga saat ini, profesionalitas tidak mematikan emosi yang ada dalam diri masing-masing individu. dan ketika satu sisi dia profesional di tuntut, tapi disisi lain dia merasa harga dirinya diinjak-injak, mana yang bakalan dipilih? lagipula, ketika e-mail Freema diterima oleh mereka dan kemudian di baca dan tidak ditindaklanjuti, gak ada unsur pidana-nya kan? menurut saya, ketika memposisikan diri sebagai polisi, ngapain diladeni. akhirnya, tulisan Freema yang semula begitu membahana, hanya bisa teriak di kotak trash.

---

aku sangat yakin kalo Kokok bisa menjelaskan ini dengan jauh lebih baik. bahwa 1 fakta bisa diungkapkan dengan alternatif pilihan 1000 kalimat, dan bisa melahirkan 1000 fakta baru, karena memang dia bergerak di bidang

ato kita ingat kembali masa lalu sebagai sebuah contoh yang paling dekat dengan kita. ketika sebuah tulisan Mbak Pur akan diserap sebagai fakta yang berbeda ketika ditulis oleh Kokok. padahal inti ide sama. yang berbeda hanya karakter, gaya bahasa. hasilnya bisa benar-benar berbeda! tp kl yang nulis Moe, hasilnya jelas, jelas tidak jelasnya (wis Kok gak usah komen buat paragraf ini)

ada paradigma it's not only the song but the singer. jelas ini masih berlaku. dan Freema masih belum masuk di golongan singer yang didengerin. di bawahnya paradigma itu kan ada lagi, it's not only the song but how to sing... terbukti lagu lawas, tidak di nyanyikan oleh singer top, tapi karena di bawakan dengan cara yang mbois jadi terjual ratusan ribu copy. contoh lagunya Hadi bisa di tanya (sebagai pengalaman pribadi maupun sebagai pengamat musik)

lalu...
bunek virtual inilah -semoga- menjadi cara kita mengenang kembali cara menulis kita yang brutal seperti dulu...

Friday, March 20, 2009

Lucu-Lucuan Caleg Narsis

Uji Materiil mengenai urutan caleg menjadi suara terbanyak yang dilakukan caleg PDI Perjuangan M. Sholeh yang selanjutnya disahkan oleh Mahkamah Konstitusi membawa konsekuensi yang luas. Ribuan caleg dari berbagai partai politik berlomba-lomba menarik simpati pemilih.

Kalau rata-rata satu partai memiliki 15 caleg untuk masing-masing DPR, DPRD I, DPRD II berarti ada sekian ribu caleg bertebaran dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas Sampai Pulau Rote (ciee, SBY banget).

Ribuan pohon tersiksa hantaman paku, ribuan tiang listrik, tiang telepon, belum termasuk dinding rumah yang mungkin pemiliknya golput. Semua menjual wajah dan beberapa hal yang susah sekali dinilai kualitasnya. Misalnya jujur, amanah, profesional. Atau vokal, berani, anti korupsi. Ada juga yang cerdas, Muda, Mandiri (kenapa nggak sekalian ditambah BRI, BNI, BCA, dll).

Yang lebih konyol, caleg pun mengkampanyekan program-program aneh layaknya jargon calon presiden. Beberapa yang saya ingat antara lain, mengurangi pengangguran, menurunkan harga pangan; terus memberikan untuk rakyat; berkarya dalam kebersamaan; dsb.

Ada juga yang lucu-lucu di koran-koran kota dan daerah (biasanya caleg untuk DPRD-DPRD II). Ada yang bunyinya: nomor urut tidak penting, ingat saja A. Hok dari partai xxx. Ada juga yang publikasi iklan: jangan lupa pilih saya, caleg paling bawah dari partai xxx.

Kalau ke daerah lebih lucu lagi. Ada caleg yang kebetulan nomor partai dan nomor urutnya 7. Kalau yang lain narsis memasang fotonya, dia memasang foto Christiano Ronaldo dan David Becham. Apalagi yang diangkat kalau bukan angka keramat no. 7 dibalik punggung pemain bola tenar itu.

Ada juga yang mengaitkan dengan iklan yang memiliki ketenaran tinggi. Seorang caleg bernama Agus, tidak menampilkan fotonya, hanya teks bertuliskan... Oalah, Agus.. Agus.. ala iklan provider GSM Three milik bersama Hutchinson Telecom dan Charoen Popkhand (correct me if I'm wrong). Ada juga yang memasang teks lagi Krisdayanti dengan beberapa not balok yang ngawur... Pilihlah Aku jadi wakilmu. Ada juga yang kelewatan mengumbar janji, Jangan Biarkan Rakyat Menderita -- ah paling-paling ujungnya kalau sampai rakyat menderita, paling tidak wakil rakyat tetap sejahtera.

Pilihan langsung dengan suara terbanyak memang sangat demokratis. Namun banyak konsekuensi yang harus ditanggung. Tentunya positif-negatif menurut versi saya sendiri lho:

POSITIF
  1. Caleg yang beberapa kali terpilih karena 'membeli' nomor urut dari partai akan kerepotan utk terpilih lagi. Mungkin karena kurang dikenal publik atau sudah dikenal keburukannya.
  2. Caleg yang tidak memiliki basis massa yang solid dan riil akan kerepotan. Tidak hanya bertempur lawan partai lain, namun juga harus menghadapi persaingan dalam partai sendiri. Ada kasus seorang caleg membagi sembako. Besoknya rekannya sesama partai memberikan sembako juga, bedanya ditambah kalimat: Sembako yang kemarin itu dibeli menggunakan duit haram. Hati-hati. Gila nggak tuh?
  3. Partai tidak bisa lagi semena-mena terhadap caleg yang memiliki basis massa pendukung riil. Mekanisme Pengganti Antar Waktu (PAW) dan recall bisa berimbas bentrok massa di tingkat akar rumput.
  4. Masyarakat akan melihat langsung dan cenderung memilih wakil yang mereka percaya. Genta kematian untuk caleg drop-dropan dari pusat. Bahkan artis, pengurus DPP, dan segepok nama tenar akan kesulitan menghadapi tokoh-tokoh daerah. Ini tentunya pembelajaran yang menarik.

NEGATIF:
  1. Money politics makin gencar. Dalam suatu dapil sudah dapat diperkirakan BPP (Bilangan Pembagi Pemilih -- semacam kuota untuk mendapat 1 kursi), dulu jika satu dapil ada 9 kursi, setidaknya yang melakukan money politics hanya nomor urut 1-4 dari tiap partai. Sekarang karena menggunakan suara terbanyak, dapat dikatakan seluruh caleg memiliki potensi melakukan money politics. Bayangkan kalau ribuan caleg itu membeli beras dan minyak untuk dibagikan di dapil masing-masing, berapa rupiah yang ditebar. Belum nanti yang cash and carry dilakukan saat serangan fajar tiba.
  2. Kontrol parpol terhadap calegnya semakin rendah. Jika tidak terkontrol fatsoen (sopan santun berpolitik) akan semakin pudar. Masa partai mengontrol wakilnya saja, sopan santun berpolitik tidak jelas arahnya. Apalagi saat kuat-kuatan massa di akar rumput terjadi.
  3. Potensi gesekan massa di akar rumput sangat besar. Karena pergerakan massa bisa sangat liar. Yang gampang saja, kemarin saya melihat gambar caleg yang matanya dilobangi dan mulutnya diberi cat pilox seolah-olah bertaring. Coba pas melakukan kegiatan ini massa pendukungnya melihat, apa nggak digebukin rame-rame tuh orang iseng.
  4. Meningkatnya golput atau suara tidak sah. Hal ini dapat terjadi karena berbagai hal. Antara lain apatisme publik, rendahnya minat mengikuti pemilu (kampanye jalan dilarang, dan sambutan masyarakat sendiri juga rendah).

disamping itu banyak lagi dampak lucu yang terjadi. Misalnya petugas kebersihan akan kerepotan membersihkan sampah kertas berupa poster, pamflet, stiker, dsb. Belum termasuk baliho, spanduk kain, billboard, iklan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), dsb. Kasihan juga pohon-pohon yang tidak bersalah menjadi cacat luka hantaman palu untuk menusukkan paku penggantung pamflet. Berapa pohon yang harus tersiksa dan berapa lagi yang harus dipotong untuk dijadikan pulp-paper. Hasilnya cuma kertas-kertas tanpa arti yang akhirnya cuma disobek pasca 9 april 2009.

Publik pasti semakin bingung, yang benar ini yang mana. Seluruh orang mengklaim musuh orde baru, anti korupsi, berpihak pada rakyat. Hampir semuanya seragamnya pro rakyat padahal tidak ada buktinya. Bahkan dalam kampanye juga menggunakan jargon bukan janji tapi bukti, bukan impian tapi kenyataann. Apa sih maksudnya. Ini kan jargon-jargon lagu lama yang tidak pernah berubah. Oh, Gosh, I miss Orde Baru. Dimana semua keadaan aman terkendali, kalau ada yang vokal berarti jelas dia dipihak siapa, dimana orang harus sembunyi-sembunyi membaca tetralogi Pramoedya, dimana membaca Madilog menggunakan ejaan lama hasil photo Copy-an.

Jadi ingat joke pembicaraan malaikat dengan Tuhan (pasti sudah banyak yang dengar):
  • Malaikat (M) : Ya Tuhan, mengapa Engkau menciptakan manusia berbagai bangsa dan iklimnya berbeda-beda?
  • Tuhan (T): Tapi Aku ciptakan selalu dalam koridor yang seimbang. Seimbang antara bangsa dan iklimnya.
  • M: Kok bisa begitu? Hamba tidak mengerti.
  • T: Begini contohnya wahai malaikat. Misalnya bangsa Inggris. Dianugerahi tubuh yang kuat dan rajin bekerja. Karena iklimnya sangat keras. Musim dinginnya sangat menusuk tulang dan dapat terjadi hingga 5-6 bulan setahun. Akhirnya bangsa Inggris dalam harus mampu menyediakan supply makanan dalam 6 bulan untuk kebutuhan 1 tahun. Lalu bangsa Spanyol, dianugerahi tubuh yang tidak sekuat bangsa Inggris. Namun matahari dapat bersinar sepanjang tahun sehingga tanaman dapat terus tumbuh berkelanjutan.
  • M: Tapi mengapa Indonesia mendapatkan semuanya. Masyarakat pekerja keras, tanah yang subur, sumber air dan energi yang melimpah? Sisi negatifnya dimana?
  • T: Seimbang? Wahai malaikat, engkau terlalu cepat mengambil keputusan. Apakah sudah kau cek para idiot yang berlomba menjadi pemimpin bangsa Indonesia? Itulah faktor negatifnya.

Wednesday, March 18, 2009

Living La Vida Loca

Ya anda benar, judul tersebut adalah judul salah satu hits Ricky Martin. Artinya kalau tidak salah Menjalani kehidupan yang gila. Saat ini hampir semuanya menggila, politik menggila, ekonomi menggila, korupsi menggila, dan semakin hari saya merasakan kehidupan di Indonesia semakin nggilani.

Gila politik
Bagaimana nggak gila. Ada partai yang mengklaim kalau menang pemilu dan jadi presiden siap membawa pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 10% per tahun. Ini pikiran yang benar-benar gila. Kalau tercapai syukur, kalau tidak paling tidak sukses membuat gila banyak orang.

Ada juga yang gila lobi. Sana-sini zig zag lobi untuk koalisi. Hina sana hina sini. Ujung-ujungnya minta tambah jatah menteri. Semoga saja sukses, kalau gagal setidaknya sudah bikin banyak pengamat politik jadi gila memikirkan langkah kuda yang diambil.

Ada yang membawa caleg perempuan kemana-mana. Menjual bahwa perempuan harus terwakili dengan jumlah. Membuat orang menjadi gila pilihan. Caleg perempuan pun semakin gila dengan foto-foto dimana-mana. Beberapa mirip artis Hollywood, Barbara Streisand, maksudnya Barisan Babu Rakyat (baca: wakil rakyat) yang mudah stress (baca: stresan)


Ekonomi Menggila
Bank Century saat mengalami permasalahan likuiditas memiliki CAR (rasio kecukupan modal) sekitar 14%. Jauh diatas CAR terendah patokan Bank Indonesia (BI) sebesar 8%. Ternyata modal CAR 14% itu modal madul. BI berkilah pengawasan berjalan dengan baik dan Bank Century tidak dilikuidasi. Nasabah menjadi gila karena uangnya dipakai investasi produk yang informasinya tidak jelas dan ternyata bodong.

Ini kan bikin gila bank lain yang sehat tapi CAR-nya mepet dengan patokan BI. Saat ini beberapa bank besar yang bagus memiliki CAR 9-12 persen. Sebenarnya secara fundamental bagus, tapi mereka pasti kesulitan menghadapi pertanyaan nasabah: uang saya aman ndak? CAR-nya situ kan mepet sekali. Lu orang harus jujur, kalau banknya lagi susah kasih tahu ya. Atau ndak usah dikasih tahu, hari ini deposito saya tak pindahin ke bank lain. Mampus nggak kalau gitu keadaannya.

Belum kering air mata publik uangnya digarong, Sarijaya Sekuritas jebol. Uang nasabah yang kabarnya Rp 500 miliar di kas perusahaan mengering tinggal Rp 6 miliar. Wow...

Syukur yang ekonominya menggila tidak hanya Indonesia. Amerika Serikat, mbahnya perekonomian dunia juga menggelepar sekarat karena berbagai fraud kelas besar. Bayangkan, perusahaan sekelas Lehman Brothers bisa bangkrut. Edan tenan, itu multi billion company yang suddenly out of the blue hancur lebur jadi abu menyisakan investor mini bonds (sebagian adalah pensiunan) yang memborong produknya di Hong Kong terkena serangan jantung.

Tidak cukup itu saja, Fanny Mae dan Freddy Mac (correct me if I'm wrong) perusahaan penyedia jasa pembiayaan rumah untuk secondary mortgage juga jebol. Belum selesai, muncul Ponzi Scheme (semacam money game-arisan berantai) yang dilakukan Madoff, salah satu tokoh keuangan penting di Amerika Serikat. Yang dijebol lagi-lagi puluhan miliar dolar lho. Banyak orang gila dibuatnya.

Yang lebih gila, Amerika Serikat yang jebol habis-habisan karena fraud keuangan dan sistem Tata Kelola yang Baik (good governance) yang tidak baik justru sering sekali memberikan masukan dan ceramah bahwa pengusaha Indonesia harus lebih transparan dan mengedepankan Good Corporate Governance (GCG). GCG mbahmu...

Gilanya, Amerika Serikat cepat sekali melakukan persidangan. Madoff yang sempat lolos dari tahanan dengan jaminan USD 7 juta, akhirnya divonis 150 tahun penjara. Di Indonesia sepertinya belum memutuskan siapa menjadi otak di Bank Century dan Sarijaya yang akhirnya dihukum berat. Well, let the judge decide.

Kegilaan belum berakhir. Karena kabarnya krisis akan mulai terlihat kedalamannya pada awal semester dua, dan diprediksi mencapai palung dasar september 2009. Kok ya pas banget sama pemilu presiden ya.


Korupsi Menggila
korupsi menggila terus. Karena sejak kecil kita sudah dicuci otak dengan cara yang salah--setidaknya saya. Sejak kecil, saya melihat begitu bangganya orang menjadi pegawai negeri, pejabat pajak, departemen keuangan, pelabuhan, bea cukai, dan lain sebagainya. Sejak kecil -- lagi-lagi setidaknya saya sendiri -- melihat cara pandang masyarakat yang sakit. Bahwa yang dipandang adalah materi. Well menurut saya, money is not everything, but it's the only thing (lho, kok podho wae). Nggak kok berbeda sekali. Cara pandang yang sehat menurut saya adalah materi memang penting, namun lebih penting cara mendapatkannya. Ini sama dengan: Baik menjadi orang penting, tapi lebih penting jadi orang baik.

Cara pandang yang seharusnya sudah membaik karena sudah reformasi ternyata menjadi semakin buruk. Demonstration effect melanda publik. Setiap hari dicuci otak dengan sinetron, iklan konsumtif dan lain sebagainya. Lambat laun materi menjadi agama baru. Mayoritas manusia di Indonesia (perlu survei nggak ya kira-kira) melihat seseorang dari pakaian, mobil, jenis Hp, blackberry, dompet, dan alumni S1- dan S2(yang terakhir ini cuma saya yang sirik saja. Soalnya pas ditanya alumni mana, saya jawab Brawijaya. Eh yang nanya, nanya lagi, itu kampus Jakarta mana? gubrak deh).


Gaya hidup menggila, kontrol berkurang dan memiliki sokongan politik menjadi pejabat publik. Tentunya korupsi menjadi cara paling gampang meraih duniawi, mereguk produk konsumtif yang terkadang koruptor itu tidak mengerti untuk apa. Laptop aja dibeli cuma buat main Soliter, blackberry dibeli cuma telpon dan sms (kalau plus cek email, nah itu saya).

Sadar nggak ya jadi budak konsumerisme. Membeli sampah yang mahal dan barang yang paling cepat menjadi value destructor. Orang lain sibuk mencapai value added dan value creation ini malah dihancurkan. Sama-lah dengan beli mobil mewah. Seharusnya mobil mewah diatas 1 miliar itu pajaknya 3600% saja biar kapok yang beli. Yang kaya baru atau kelompok Kamjet (kampungan berlagak jet set) harus berpikir 3600 kali juga kalau mau beli.

Gila kan. Saya sendiri sudah beberapa tahun terakhir juga gila melihat keadaan. Paling cuma bisa merenungi sore-sore sambil siram-siram kembang sembari baca koran sore terus bersenandung lagu Iwan Fals... aku berdiri... menjadi saksi....

Saturday, March 14, 2009

Mending Memperawani ketimbang Self Service

Tulisan ini tiba-tiba saja muncul dalam benak setelah beberapa detik lalu ngelihat berita infotainment soal gossip keperawanan Dea Imoet dijual 8 M. Seandainya itu benar, jadi penasaran saja…seandainya 8 M tadi dibuat utuk membangun kompleks…wow pasti lebih menghasilkan dan sedikit banyak menggerakan roda ekonomi disekitarnya. Tapi tunggu, maksudnya kompleks perumahan sederhana dengan fasilitas umum seperti pasar tradisional, sekolah, puskesmas, pangkalan ojek, dsb.

Dari sudut pandang lain---jika memang gossip nya benar, si lelaki tolol (apa beruntung ya?)mencari “media baru” untuk melampiaskan hasratnya ketimbang memakai “media lama” yang dipikirnya udah usang dan atau hanya melakukan “self service”

Kembali ke blog ini---sepertinya saya sedang beruntung bisa memperawaninya walaupun gak perlu mengeluarkan 8 M, tapi sensasinya sama walaupun nggak serupa. Iya, memperawani media baru untuk melepas hasrat para fosil Indikator. Old Indiers back to youth dengan media ini walaupun media digital ini tidak akan pernah bisa menghapuskan media tradisionil yang yang telah membesarkan kita. Sekarang…sudah nggak perlu self service lagi, sudah ada tempat untuk melepas dan dibagikan kepada yang lain. Satu untuk semua…

Selamat Datang di Era Digital.
Diposting melalui gadget blackberry