Friday, March 20, 2009

Lucu-Lucuan Caleg Narsis

Uji Materiil mengenai urutan caleg menjadi suara terbanyak yang dilakukan caleg PDI Perjuangan M. Sholeh yang selanjutnya disahkan oleh Mahkamah Konstitusi membawa konsekuensi yang luas. Ribuan caleg dari berbagai partai politik berlomba-lomba menarik simpati pemilih.

Kalau rata-rata satu partai memiliki 15 caleg untuk masing-masing DPR, DPRD I, DPRD II berarti ada sekian ribu caleg bertebaran dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas Sampai Pulau Rote (ciee, SBY banget).

Ribuan pohon tersiksa hantaman paku, ribuan tiang listrik, tiang telepon, belum termasuk dinding rumah yang mungkin pemiliknya golput. Semua menjual wajah dan beberapa hal yang susah sekali dinilai kualitasnya. Misalnya jujur, amanah, profesional. Atau vokal, berani, anti korupsi. Ada juga yang cerdas, Muda, Mandiri (kenapa nggak sekalian ditambah BRI, BNI, BCA, dll).

Yang lebih konyol, caleg pun mengkampanyekan program-program aneh layaknya jargon calon presiden. Beberapa yang saya ingat antara lain, mengurangi pengangguran, menurunkan harga pangan; terus memberikan untuk rakyat; berkarya dalam kebersamaan; dsb.

Ada juga yang lucu-lucu di koran-koran kota dan daerah (biasanya caleg untuk DPRD-DPRD II). Ada yang bunyinya: nomor urut tidak penting, ingat saja A. Hok dari partai xxx. Ada juga yang publikasi iklan: jangan lupa pilih saya, caleg paling bawah dari partai xxx.

Kalau ke daerah lebih lucu lagi. Ada caleg yang kebetulan nomor partai dan nomor urutnya 7. Kalau yang lain narsis memasang fotonya, dia memasang foto Christiano Ronaldo dan David Becham. Apalagi yang diangkat kalau bukan angka keramat no. 7 dibalik punggung pemain bola tenar itu.

Ada juga yang mengaitkan dengan iklan yang memiliki ketenaran tinggi. Seorang caleg bernama Agus, tidak menampilkan fotonya, hanya teks bertuliskan... Oalah, Agus.. Agus.. ala iklan provider GSM Three milik bersama Hutchinson Telecom dan Charoen Popkhand (correct me if I'm wrong). Ada juga yang memasang teks lagi Krisdayanti dengan beberapa not balok yang ngawur... Pilihlah Aku jadi wakilmu. Ada juga yang kelewatan mengumbar janji, Jangan Biarkan Rakyat Menderita -- ah paling-paling ujungnya kalau sampai rakyat menderita, paling tidak wakil rakyat tetap sejahtera.

Pilihan langsung dengan suara terbanyak memang sangat demokratis. Namun banyak konsekuensi yang harus ditanggung. Tentunya positif-negatif menurut versi saya sendiri lho:

POSITIF
  1. Caleg yang beberapa kali terpilih karena 'membeli' nomor urut dari partai akan kerepotan utk terpilih lagi. Mungkin karena kurang dikenal publik atau sudah dikenal keburukannya.
  2. Caleg yang tidak memiliki basis massa yang solid dan riil akan kerepotan. Tidak hanya bertempur lawan partai lain, namun juga harus menghadapi persaingan dalam partai sendiri. Ada kasus seorang caleg membagi sembako. Besoknya rekannya sesama partai memberikan sembako juga, bedanya ditambah kalimat: Sembako yang kemarin itu dibeli menggunakan duit haram. Hati-hati. Gila nggak tuh?
  3. Partai tidak bisa lagi semena-mena terhadap caleg yang memiliki basis massa pendukung riil. Mekanisme Pengganti Antar Waktu (PAW) dan recall bisa berimbas bentrok massa di tingkat akar rumput.
  4. Masyarakat akan melihat langsung dan cenderung memilih wakil yang mereka percaya. Genta kematian untuk caleg drop-dropan dari pusat. Bahkan artis, pengurus DPP, dan segepok nama tenar akan kesulitan menghadapi tokoh-tokoh daerah. Ini tentunya pembelajaran yang menarik.

NEGATIF:
  1. Money politics makin gencar. Dalam suatu dapil sudah dapat diperkirakan BPP (Bilangan Pembagi Pemilih -- semacam kuota untuk mendapat 1 kursi), dulu jika satu dapil ada 9 kursi, setidaknya yang melakukan money politics hanya nomor urut 1-4 dari tiap partai. Sekarang karena menggunakan suara terbanyak, dapat dikatakan seluruh caleg memiliki potensi melakukan money politics. Bayangkan kalau ribuan caleg itu membeli beras dan minyak untuk dibagikan di dapil masing-masing, berapa rupiah yang ditebar. Belum nanti yang cash and carry dilakukan saat serangan fajar tiba.
  2. Kontrol parpol terhadap calegnya semakin rendah. Jika tidak terkontrol fatsoen (sopan santun berpolitik) akan semakin pudar. Masa partai mengontrol wakilnya saja, sopan santun berpolitik tidak jelas arahnya. Apalagi saat kuat-kuatan massa di akar rumput terjadi.
  3. Potensi gesekan massa di akar rumput sangat besar. Karena pergerakan massa bisa sangat liar. Yang gampang saja, kemarin saya melihat gambar caleg yang matanya dilobangi dan mulutnya diberi cat pilox seolah-olah bertaring. Coba pas melakukan kegiatan ini massa pendukungnya melihat, apa nggak digebukin rame-rame tuh orang iseng.
  4. Meningkatnya golput atau suara tidak sah. Hal ini dapat terjadi karena berbagai hal. Antara lain apatisme publik, rendahnya minat mengikuti pemilu (kampanye jalan dilarang, dan sambutan masyarakat sendiri juga rendah).

disamping itu banyak lagi dampak lucu yang terjadi. Misalnya petugas kebersihan akan kerepotan membersihkan sampah kertas berupa poster, pamflet, stiker, dsb. Belum termasuk baliho, spanduk kain, billboard, iklan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), dsb. Kasihan juga pohon-pohon yang tidak bersalah menjadi cacat luka hantaman palu untuk menusukkan paku penggantung pamflet. Berapa pohon yang harus tersiksa dan berapa lagi yang harus dipotong untuk dijadikan pulp-paper. Hasilnya cuma kertas-kertas tanpa arti yang akhirnya cuma disobek pasca 9 april 2009.

Publik pasti semakin bingung, yang benar ini yang mana. Seluruh orang mengklaim musuh orde baru, anti korupsi, berpihak pada rakyat. Hampir semuanya seragamnya pro rakyat padahal tidak ada buktinya. Bahkan dalam kampanye juga menggunakan jargon bukan janji tapi bukti, bukan impian tapi kenyataann. Apa sih maksudnya. Ini kan jargon-jargon lagu lama yang tidak pernah berubah. Oh, Gosh, I miss Orde Baru. Dimana semua keadaan aman terkendali, kalau ada yang vokal berarti jelas dia dipihak siapa, dimana orang harus sembunyi-sembunyi membaca tetralogi Pramoedya, dimana membaca Madilog menggunakan ejaan lama hasil photo Copy-an.

Jadi ingat joke pembicaraan malaikat dengan Tuhan (pasti sudah banyak yang dengar):
  • Malaikat (M) : Ya Tuhan, mengapa Engkau menciptakan manusia berbagai bangsa dan iklimnya berbeda-beda?
  • Tuhan (T): Tapi Aku ciptakan selalu dalam koridor yang seimbang. Seimbang antara bangsa dan iklimnya.
  • M: Kok bisa begitu? Hamba tidak mengerti.
  • T: Begini contohnya wahai malaikat. Misalnya bangsa Inggris. Dianugerahi tubuh yang kuat dan rajin bekerja. Karena iklimnya sangat keras. Musim dinginnya sangat menusuk tulang dan dapat terjadi hingga 5-6 bulan setahun. Akhirnya bangsa Inggris dalam harus mampu menyediakan supply makanan dalam 6 bulan untuk kebutuhan 1 tahun. Lalu bangsa Spanyol, dianugerahi tubuh yang tidak sekuat bangsa Inggris. Namun matahari dapat bersinar sepanjang tahun sehingga tanaman dapat terus tumbuh berkelanjutan.
  • M: Tapi mengapa Indonesia mendapatkan semuanya. Masyarakat pekerja keras, tanah yang subur, sumber air dan energi yang melimpah? Sisi negatifnya dimana?
  • T: Seimbang? Wahai malaikat, engkau terlalu cepat mengambil keputusan. Apakah sudah kau cek para idiot yang berlomba menjadi pemimpin bangsa Indonesia? Itulah faktor negatifnya.

1 comment:

  1. Jgn mudah bilang orang lain naif. Coba bayangkan anda di posisi MUI, pasti sulit menghadapi tawaran menjadi menteri, staf ahli atau setidaknya dapat aliran uang ha..ha.. Jadi fitnah deh.

    Aku yakin, MUI pasti sudah berpikir panjang akibatnya.

    ReplyDelete